Digitalisasi Penyiaran dan Masa Depan TV Komunitas*

Oleh: Anang Hermawan**

Digitalisasi media yang hadir berkat konvergensi teknologi informasi akan mengubah wajah penyiaran kita di masa mendatang. Mulai 2007 lalu, pemerintah memusatkan perhatian agar siaran televisi digital dapat mulai dijalankan. Saat ini, merancang tiga tahap migrasi penyiaran analog ke digital. Pertama, tahap uji coba yang telah terlaksana pada 13 Agustus lalu di wilayah Jabodetabek. Tahap ini ditargetkan selesai tahun 2012, dimana selain televisi digital dipopulerkan juga dilakukan penghentian terhadap ijin penyiaran analog. Tahap kedua ditargetkan dimulai pada tahun 2013 hingga 2017 dengan sejumlah kegiatan yang meliputi penghentian siaran TV analog di kota-kota besar dilanjutkan dengan daerah regional lain. Pada tahap ini berlangsung intensifikasi penerbitan izin bagi operator yang awalnya beroperasi analog ke digital. Sedangkan tahap terakhir merupakan periode pasca 2017, dimana seluruh siaran TV analog dihentikan siaran TV digital beroperasi penuh.

Selama masa migrasi analog ke digital, pengguna masih dapat menggunakan pesawat televisi analog untuk menerima siaran digital, dengan menambahkan peralatan tambahan yang memungkinkan televisi analog dapat menerima siaran digital. Operator menambah pemancar digital, sementara penggunanya pun menambah alat penerima siaran yang disebut set-top box (STB) pada televisi analognya. Persoalannya, sekarang ini harga STB masih terlihat relatif mahal, yakni antara 25-150 dolar per unit. Padahal untuk dapat terjangkau masyarakat, pemerintah berharap hanya sekitar 200 ribu rupiah saja. Oleh karenanya, persoalan daya beli masyarakat akan perangkat tambahan tersebut menjadi kesulitan tersendiri untuk tercapainya migrasi dari penyiaran analog ke penyiaran digital dalam kurun yang cepat.

Tantangan TV Komunitas

Tepatlah ungkapan yang pernah diungkap Roger Fidler dua dasawarsa silam: mediamorfosis (Fidler, 2003: xi). Cepat atau lambat, konvergensi media yang mewajah dalam televisi digital akan melibas teknologi penyiaran analog yang lazim sekarang ini. Dari kacamata teknologi boleh jadi konvergensi merupakan sesuatu yang imperatif, keberadaannya sekadar satu tahap dari evolusi teknologi belaka. Persoalannya adalah, sejauh mana penyedia jasa penyiaran dan masyarakat kita betul-betul siap untuk menerima digitalisasi televisi, dan bagaimana eksistensi televisi komunitas sekarang ini menghadapi digitalisasi di masa mendatang?

Terkait dengan perubahan teknologi dan gaya hidup khalayak, televisi komunitas menghadapi sejumlah tantangan serius. Tantangan pertama terkait dengan faktor kultural dimana masyarakat perlu lebih mengenal saluran televisi komunitas sebagai media alternatif. Tantangan kedua terkait dengan faktor struktural. Regulasi yang ada belum dapat dikatakan memadai untuk mendukung berkembangnya televisi komunitas. Tantangan ketiga adalah faktor teknologi. Dalam tahap perkembangannya yang sekarang, teknologi yang digunakan televisi komunitas relatif belum cukup untuk menyelenggarakan siaran yang sebagus televisi swasta yang menyebabkan kurang diminatinya televisi komunitas dibandingkan televisi swasta. Tantangan keempat terkait dengan keterbatasan sumber daya manusia. Manajemen yang baik pada lembaga penyiaran komunitas akan berpengaruh pada sustainability dan kualitas layanan siaran.

Sekalipun demikian, bagi televisi komunitas digitalisasi sesungguhnya menyimpan harapan tersendiri. Dimungkinkannya multikanal untuk sistem digital ke depan dapat diisi oleh televisi komunitas. Tantangan terberat yang akan dihadapi televisi komunitas ke depan adalah terpinggirnya peran televisi komunitas oleh komunitasnya sendiri manakala seluruh stasiun televisi berubah ke format digital. Terutama untuk televisi komunitas di lingkungan urban, mudahnya akses masyarakat terhadap seluruh bentuk media bukan tidak mungkin menyebabkan suatu saat nanti masyarakat segera berpindah menonton siaran digital.
Maka agenda mendesak pada tataran kultural dan manajerial dalam konteks ini adalah penguatan kembali eksistensi televisi komunitas pada tataran akar rumput. Program-program pemberdayaan masyarakat tentu tidak boleh ditinggalkan, karena dari merekalah konten dan kualitas siaran akan berkembang. Selain itu, penguatan sumber daya ini juga dapat dilakukan melalui peningkatan ketrampilan manajerial agar televisi komunitas dapat dikelola secara profesional dan dikembangkan lebih lanjut. Peran asosiasi mutlak diperlukan di sini. Asosiasi televisi komunitas yang sudah ada bertanggung jawab menginisiasi program-program pemberdayaan anggotanya yang terdiri dari beragam latar belakang.

Pada tataran struktural, menjadi agenda penting bagi penggiat televisi komunitas maupun asosiasinya sekarang ini untuk mendesak pemerintah agar memberikan kesempatan yang lebih luas bagi pendirian ijin televisi komunitas. Jamak diketahui bahwa stasiun televisi swasta yang bersiaran nasional sekarang ini telah melanggar undang-undang penyiaran yang berlaku. Senyampang siaran televisi digital belum terdistribusi secara luas, maka agenda jangka pendek yang mesti dilakukan adalah mengupayakan perluasan kanal-kanal siaran di level kebijakan. Pilihannya satu, pemerintah harus diyakinkan bahwa sistem penyiaran analog bagi stasiun televisi swasta sekarang merugikan perkembangan televisi lain, khususnya komunitas. Mana mungkin televisi komunitas akan bertahan apabila ketidaktaatan terhadap kebijakan yang ada menyebabkan pilihan akses masyarakat menjadi terbatas, disebabkan saluran yang eksis sudah didominasi oleh stasiun swasta. Lagipula, derajat diversity of content maupun diversity of ownership sekarang ini belum diterjemahkan secara apik melalui distribusi kanal yang merata. Sedikitnya slot kanal yang kanal diberikan kepada televisi komunitas menyebabkan ketidakbebasan dalam mengeksplorasi frekuensi yang berpeluang dimanfaatkan.

Agenda jangka panjang adalah mempersiapkan televisi komunitas menuju digitalisasi. Terlepas dari seberapa besar biaya yang dibutuhkan untuk siaran, bagaimanapun digitalisasi siaran menyediakan peluang yang lebar bagi televisi komunitas. Puluhan televisi komunitas suatu saat nanti dapat eksis bersama tanpa gangguan teknis berarti. Dalam konteks ini, para penggiat televisi komunitas lagi-lagi harus berjuang keras untuk mendorong terciptanya regulasi yang tidak merugikan televisi komunitas. Desakan terhadap regulator harus dilakukan sedini mungkin, agar regulasi yang dihasilkan nanti betul-betul bebas dari kemungkinan-kemungkinan peminggiran potensi televisi komunitas sebagaimana telah terjadi sebelumnya.

Regulasi menjadi konsekuensi logis dari permainan simbol budaya yang ditampilkan oleh media konvergen. Tujuannya jelas, yakni agar tidak terjadi tabrakan kepentingan yang menjadikan salah satu pihak menjadi dirugikan. Terutama bagi kalangan pengguna atau publik, pihak ini biasanya menjadi pihak yang paling sering menjadi korban dari implementasi konvergensi. Persoalan terakhir ini menarik, karena perkembangan teknologi umumnya selalu mendahului regulasi. Dengan kata lain, regulasi hampir selalu ketinggalan jika dibandingkan dengan perkembangan teknologi komunikasi. Fungsi pemerintah sebagai regulatory agent adalah menjaga hubungan dengan pasar dan masyarakat sipil agar tidak terjadi dominasi antar ketiganya. Dalam konteks penciptaan regulasi ini, peran para penggiat televisi komunitas dan asosiasi menjadi mutlak diperlukan. Sembari mengembangkan kualitas televisi yang sudah eksis selama ini, mereka dituntut bergerak bersama menyambut konvergensi. Cepat atau lambat, konvergensi akan melanda penyiaran komunitas. Diperlukan optimisme agar ke depan televisi komunitas benar-benar menjadi salah satu media alternatif demi mencerdaskan kehidupan masyarakat. Wallahu a’lam bishshowab.

*******
*   Tulisan ini dimuat di Harian BERNAS Jogja edisi Sabtu, 22 November 2008
** Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UII, Yogyakarta

2 responses to “Digitalisasi Penyiaran dan Masa Depan TV Komunitas*

  1. Semoga digitalisasi penyiaran ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh televisi komunitas yang terkendala oleh kurangnya kanal di sistem analog.

  2. semoga digialisasi peniaran menjadi solusi bagi elevisi komunias unuk erus maju dan berkembang..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s