Banalitas Televisi Pasca Ramadhan*

Oleh: Anang Hermawan**

Syahdan, sebuah acara televisi minggu lalu menayangkan seorang artis ibukota yang mengaku mulai kebanjiran job setelah Ramadhan tahun ini berakhir. Sang artis yang akrab dikenal kerap mengekspos kemolekan tubuhnya di layar kaca itu mengaku menghentikan aktivitas profesinya selama bulan Ramadhan. Wajar saja, biasanya ia tampil dengan pakaian seronok. Bulan puasa lalu ia tampil apik. Kerudung kadang-kadang menghiasi wajahnya, penampilan pun tak setelanjang biasanya. Rupanya ia tak sendirian, sejumlah artis yang sealiran dengannya pun demikian. Bulan ini saatnya bagi mereka untuk memulai lagi tampil dengan gaya yang sama dengan sebelum Ramadhan. Celakanya, bahkan ada juga selebriti yang dahulu tidak dikenal sebagai artis seronok tahu-tahu bulan ini muncul sebagai bintang seronok. Malah ada di antaranya yang mengatakan bahwa bulan Ramadhan kemarin adalah bulan pencucian dosa. Dosa-dosa mereka yang lalu karena akting yang saru di layar televisi sudah dicuci bersih selama bulan suci. Setelah berlalu bulan itu, tibalah saatnya mereka untuk menmbuat dosa-dosa baru, nanti dicuci lagi Ramadhan tahun depan. Demikian seterusnya. Alih-alih bertobat, penampilan mereka yang mengundang syahwat itu mereka hentikan sejenak; konon untuk menghormati saudara-saudara mereka yang berpuasa, atau untuk menghormati bulan suci katanya.

Ragam komentar para bintang yang diwawancarai di televisi kita pun acapkali serba identik dengan ragam acara televisi yang memang tak pernah berganti wajah dari tahun ke tahun. Memasuki Ramadhan, acara televisi kita akan diwarnai dengan ragam acara berorientasi spiritual. Pasca ramadhan, tayangan televisi kembali lagi mengurangi tayangan acara spiritual dan menggantinya dengan format terdahulu yang relatif miskin nilai spiritual. Religiotainment yang menjejali tayangan televisi di bulan Ramadhan secara-berangsur-angsur lenyap dan digantikan oleh aneka hiburan lain yang kurang atau sama sekali tidak bernafaskan nilai spiritual. Pudar sudah harapan sebagaian orang yang menginginkan televisi akan menyampaikan pesan-pesan spiritual terus menerus. Televisi kembali ke fitrahnya sebagai media hiburan.

Lagi-lagi, manakala kita melihat tayangan televisi yang menyajikan komentar-komentar para selebriti itu, kita akan segera dihadapkan pada satu kontinyuitas kehidupan yang material based. Bagi sebagian mereka, norma-norma moralitas dan agama tak lagi lekang. Memang bulan Ramadhan menjadi ajang kontempalasi spiritual, tetapi itu tidak dibarengi dengan sikap konsisten alias istiqomah pada bulan-bulan setelahnya. Sehingga dalam perspektif industri media, menonjolnya aktivitas penyampaian pesan-pesan spiritual termasuk penampilan gaya hidup yang kembali kepada nurani dan agama para artisnya pada bulan Ramadhan itu pun boleh jadi tidak lebih dari sebuah aktivitas temporal belaka.

Manakala televisi kembali ke sifat asalnya sebagai media hiburan, tidak mengherankan jika para ustadz kyai tidak akan muncul sesering kemarin dan para artis juga akan kembali lagi ke gaya hidup semula. Penampilan fisik dan perilaku meraka sebagian memang ada yang membaik, dalam arti tidak semenonjol dahulu. Namun tidak sedikit pula yang kembali justru makin berani mengekspos kemolekan tubuhnya demi popularitas dan pencapaian materi.

Di sisi lain, tayangan iklan yang dahulu tampil santun dengan aneka ragam pesan spiritual pun segera berganti dengan format lama yang mengharu-biru dan mendorong perilaku konsumtif penontonnya. Maka benar jika pesan-pesan spiritual yang mereka tampilkan hanya berlaku sebagai selingan sesaat. Pesan-pesan spiritual itu memang tidak ditujukan untuk kepentingan umat dalam jangka panjang, melainkan sekadar sebagai pemanis sesaat untuk sekadar memenangkan ceruk pasar di tengah persaingan yang semakin ketat.

Banality TV dan Gairah Praktik Pertandaan
Pengalaman program televisi kita dari hari ke hari cenderung menegaskan adanya sebuah tautology alias pengulangan yang menambah kejelasan bagaimana kedangkalan citraan menjadi fenomena lumrah. Selebriti merupakan salah satu contoh yang gampang dikenali. Mereka seolah-olah begitu akrab dengan penonton, dan setiap saat membujuk penonton untuk mengikuti gaya hidup mereka. Eksistensi mereka pun setali tiga uang dengan televisi. Begitu mudahnya penonton terpesona dan terperdaya manakala seorang selebriti tampil di layar kaca. Padahal, acara-acara yang menampilkan selebriti lebih banyak hiburan semata, termasuk ekspose tentang perihidup individu mereka pun tidak lebih sekadar paparan entertainment yang tidak banyak bermanfaat bagi publik.

Dalam pemikiran Baudrillard (Taylor dan Harris: 2008), penayangan perihidup para selebriti merupakan salah satu dari dua corak banalitas yang lazim hadir dalam program televisi. Corak pertama mewajah dalam rupa-rupa tayangan yang berbau kekerasan, kriminal, maupun event-event mematikan. Sementara banalitas kedua justru berkebalikan, yakni penggambaran realitas sehari-hari yang remeh-temeh dari kehidupan seseorang. Termasuk dalam ragam ini adalah tayangan program-program hiburan serta program factual entertaintment yang menyangkut kehidupan seorang tokoh terkenal. Tokoh di sini bukan dalam konteks tokoh publik yang memiliki kaitan langsung dengan kehidupan masyarakat secara luas, melainkan sekadar public figure yang terkenal karena keartisannya atau lazim dikenal dengan sebutan selebritis.

Kendati sama-sama banal, ragam tayangan televisi corak pertama memiliki signifikansi yang berbeda. Corak pertama acapkali masih memiliki nilai penting bagi masyarakat luas. Taruhlah misalnya pembunuhan berantai yang dilakukan oleh seorang psikopat misterius; masih memiliki nilai penting bagi masyarakat agar mereka berhati-hati dalam pergaulan hidup. Akan halnya corak kedua seringkali tidak memberikan makna apa-apa, kecuali hiburan semata. Dalam jenis kedua ini, sungguh tidak ada ada yang begitu penting untuk mereka tawarkan. Mengapa dan untuk apa situasi sukacita maupun duka cita seorang artis perlu dipaparkan di depan mata penonton. Padahal hal yang sama juga biasa terjadi pada masyarakat umum. Secara empirik, tidak ada bedanya antara perceraian atau bahkan kesedihan yang terjadi pada diri seorang artis dengan warga biasa. Justru, manakala perceraian dan peristiwa sakit atau bahkan kematian seorang selebritis ditayangkan di layar kaca menjadikannya sebagai hiburan terselubung yang menarik hati penonton setia.

Pesona ragam acara hiburan televisi memang ditentukan oleh siapa yang menjadi “bintang” di dalamnya. Persoalannya terletak miskinnya makna mendalam yang bisa diapresiasi dan diteladani publik. Maka sesudut wajah televisi kita umumnya merupakan permainan citraan tentang realitas sehari-hari dari seorang manusia biasa yang disebut sebagai selebritis yang bisa saja dialami oleh manusia lain. Kehidupan mereka laksana menara gading yang terlepas dari realitas masyarakat kebanyakan. Etos dari banality TV bermain manakala tayangan televisi membuka rahasia (revelation) pribadi serta mengeskplisitkan sisi-sisi hidup yang biasanya justru ditabukan orang untuk diekspos.

Jika demikian halnya, maka yang timbul adalah aneka citraan yang beraroma hiperrealitas. Program-program dangkal yang akrab bermain dalam ragam acara gaya hidup, bincang-bincang, dan reality show itu acapkali terasa nyata betul dan dekat dengan diri kita. Padahal, kerapkali demi kepentingan popularitas tidak sedikit dari para selebritis itu yang menampilkan artikulasi yang dibuat-buat alias artifisial. Perlukah kita terpesona dan larut dalam menikmati pemandangan seperti itu. Jawabannya ada pada nurani dan akal sehat kita. Wallahu’alam bishshowab.

* Artikel ini dimuat di Harian BERNAS JOGJA edisi Sabtu, 18 Oktober 2008
** Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UII

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s