Agenda Media Literacy Berbasis Sekolah*

Oleh: Anang Hermawan**

Tahun lalu media kita gencar memberitakan kasus-kasus remaja yang di-smack down teman sekolahnya. Sebagian siswa mengalami luka-luka serius, dan di sejumlah tempat bahkan ada yang meninggal. Konon, anak-anak meniru adegan kekerasan yang mereka tonton dalam acara gulat bebas (wrestling) yang sarat dengan dengan kekerasan di salah satu stasiun televisi swasta di Jakarta. Tak ayal, stasiun televisi yang menayangkan acara tersebut diminta menggeser jam tayangnya dari jam-jam prime time ke jam tayang dini hari untuk meminimalkan kemungkinan penonton anak menikmati tayangan tersebut.

Kendati demikian, pemindahan jam tayang tidak berdampak apa-apa, karena kasus-kasus peragaan kekerasan anak-anak sekolah yang diyakini meniru acara tersebut terus berlangsung. Korban pun bertambah, dan ketika para korban maupun pelaku dimintai keterangan, mereka akan mengatakan alasan yang sama: meniru acara di televisi. Alhasil, acara berbasis kekerasan itupun dihentikan penayangannya setelah diminta oleh pemerintah.

Bercermin dari pelbagai kasus kekerasan anak tersebut, masyarakat dan pengamat media pun kembali meneguhkan keyakinan bahwa tayangan kekerasan di televisi sangat kuat dalam mempengaruhi perilaku anak. Dalam konteks ini, patut dipertanyakan sejauh mana pembelajaran di sekolah dapat menyuntikkan daya kritis dan kemampuan selektif bagi anak di dalam menonton tayangan media. Ditengah situasi masyarakat yang termediasi sekarang ini, proses belajar mengajar di sekolah dituntut untuk mampu menumbuhkan kesadaran bermedia alias melek media (media literacy) bagi siswa.

Sekolah seringkali dituntut lebih untuk mampu mencetak kepribadian dan perilaku positif anak. Padahal proses belajar mengajar di sekolah hanya membutuhkan enam sampai delapan jam. Hanya sepertiga saja waktu yang termanfaatkan secara formal. Di luar itu, lingkunganlah yang sebenarnya lebih membentuk kepribadian dan kebiasaan anak. Dengan demikian, perilaku kekerasan anak sekolah sebetulnya lebih dipengaruhi oleh penggunaan waktu di luar sekolah alias duapertiga waktu hidup mereka dalam sehari. Jika anak-anak ibarat gelas kosong, sekolah sebenarnya hanya akan mampu mengisi sepertiganya, dan dua pertiga itu akan lebih ditentukan oleh lingkungannya, baik keluarga maupun lingkungan pergaulan mereka di masyarakat.

Sekolah dan Penguatan Kesadaran Bermedia

Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, dalam konteks penguatan kesadaran bermedia anak, sekolah tetap harus mampu menunjukkan perannya. Pada tahap usia dan perkembangan anak tertentu, disamping dikenalkan pengetahuan awal tentang media, siswa perlu dirangsang untuk senantiasa berpikir kritis terhadap setiap tayangan media. Secara akademis, program media literacy di sekolah akan efektif jika terdapat kurikulum yang memadai terkait dengan media. Diperlukan mata pelajaran khusus yang mengkaji media, sehingga sejak awal siswa akan mengerti bahwa kesadaran media ditengah budaya konsumsi media yang melimpah ruah sekarang ini memang betul-betul urgen.

Jika cara pertama itu masih dianggap membebani –dilihat dari banyaknya mata pelajaran yang harus ditempuh siswa– maka pendidikan media literacy masih dapat ditempuh dengan menyisipkan muatan literacy tersebut ke dalam salah satu mata pelajaran yang sesuai. Sebut saja mata pelajaran bidang teknologi komunikasi dan informasi. Di dalam mata pelajaran tersebut dapat disisipkan materi-materi tentang dampak sosial perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, termasuk media di dalamnya. Pembentukan kesadaran awal di tingkat siswa setidaknya akan membantu memperkuat penanaman nilai-nilai positif pada anak, yang diharapkan akan terinternalisasi dalam setiap perilaku anak.

Satu hal yang patut dicatat, pendidikan media literacy di sekolah jangan sampai sekadar dimengerti sebagai media education. Pendidikan media (media education) hanya akan berhenti pada level teknis, dan karenanya media lebih sering diandaikan secara positif. Pendidikan macam ini nantinya akan cenderung mengajarkan bagaimana memanfaatkan media sebagai bagian dari proses belajar mengajar. Pembuatan media sekolah maupun pengenalan alat-alat produksi media massa merupakan bagian dari media education. Sementara pendidikan media literacy merupakan aspek-aspek pengajaran yang lebih berdimensi sosiologis dan etis. Tujuan pendidikan media literacy adalah untuk memproteksi anak didik dari persepsi-persepsi buruk media sekaligus mendidik anak untuk mampu mengapresiasi efek positif media. Maka pendidikan media literacy tidak sekadar mengajarkan siswa tentang segi teknis produksi tayangan media, melainkan juga berbagai konsekuensi yang timbul dari kekuatan media. Pendidikan media literacy mengajarkan pada anak tentang pemanfaatan media secara bijak serta penilaian kritis terhadap muatan media. komunikasi

Mengambil analogi teori peluru atau teori jarum hipodermik yang memandang bahwa pesan (isi) media mempunyai peran yang sangat kuat dalam membentuk perilaku masyarakat; maka siswa sekolah pun perlu dididik untuk dapat mengembangkan dirinya sendiri menghadapi pengaruh media. Anak-anak perlu “disuntik” dengan cara tersendiri sehingga mereka kebal alias imun terhadap kemungkinan dampak buruk yang akan terjadi akibat tayangan media. Ditengah melimpahruahnya aneka citraan media yang tidak terbenung sekarang ini tindakan inokulatif sangat diperlukan demi melindungi bahaya negatif media yang bisa mempengaruhi segi-segi kognitif, afektif, dan behavioral siswa. Pendidikan melek media ibarat suntikan imunisasi dimana siswa secara mandiri mampu menghasilkan antibodi yang siap menanggulangi berbagai potensi penyakit psikologis pada diri mereka akibat pengaruh media.

Di samping perlunya pengembangan kurikulum sekolah sekolah di bidang media, elemen masyarakat yang lain perlu dituntut untuk bersinergi dengan sekolah. Keterlibatan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang media misalnya, senantiasa diperlukan. LSM perlu mengagendakan program-program penyadaran bermedia yang membidik siswa-siswa sekolah secara simultan. Taruhlah mereka menyelenggarakan simulasi-simulasi maupun kursus melek media dari sekolah ke sekolah. Dalam forum-forum tersebut siswa dapat diajak mengenal berbagai sisi representasi media, dan setidaknya hal tersebut dapat menjadi selingan positif bagi siswa di tengah himpitan kurikulum yang terlihat berat sekarang ini.

Di sisi lain, keterlibatan perguruan tinggi pun tidak kalah penting. Seirama dengan gerak lembaga swadaya masyarakat, perguruan tinggi dapat berperan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan media literacy untuk anak sekolah melalui berbagai forum pemberdayaan guru dan siswa. Perguruan tinggi, khususnya penyelenggara program studi ilmu komunikasi juga dapat melakukan penelitian-penelitian dampak media bagi anak usia sekolah. Hasil penelitian yang diseminasikan tentu saja akan memberi sumbangan positif bagi pengambilan kebijakan pendidikan sekolah. Terakhir, lembaga pemerintah baik departemen terkait maupun lembaga ekstra eksekutif semacam KPI dan KPID mesti menjadikan pendidikan melek media sebagai prioritas program. Wallahu’alam bishshowab.

* Tulisan ini dimuat diharian BERNAS Jogja Edisi 10 April 2008

** Penulis adalah Staf Pengajar Prodi lmu Komunikasi UII.

8 responses to “Agenda Media Literacy Berbasis Sekolah*

  1. Bos, emang susah tuh jadi orang tua jaman sekarang, jadi guru jaman sekarang. nilai2 yang kita tanamkan di rumah (dan disekoleh oleh guru) seringkali dipandang ‘jadul’ oleh anak sekarang, nggak ngetrend, ngggak gaul,dst. karena apa? diluar rumah (juga di luar sekolah) terpaan media massa begitu kencang, lebih kencang dari kemampuan kita untuk mengkritisi, menyaring,bahkan untuk sekedar beradaptasi. INgatlah kawa, arus leberalisasi media kan ibarat air bah dari bendungan jebol. Byur! gelagapan lah kita. apalagi sifat media (massa) sendiri yang memang berpotensi untuk mendemoralisasi manusia (ini kata SK,eksistensialis yang menyedihkan itu)dengan opini yang dibentuk lewat sajian-sajiannya. Ingat (dalam kasus anak2 ini aja ya)! bukankah anak-anak adalah ‘peniru’ nomor satu di jagat ini? mereka korban, penjahatnya? orang tua. orang tua korban juga, penjahatnya?lingkungan,yang berkembang terlalu bebas.
    media education (litteracy) itu perlu dan penting, tapi kalo tiap hari dihantam dengan berita2, gambar2, tayangan2 (yg oleh kalangan media dikemas sedemikian rupa sehingga menarik) apa gak jebol?
    nuwun
    KH

  2. salaam..
    alur pendidikan yang sistematikanya tidak mampu menunjang langsung alur pendidikan media literacy (seperti yang saya baca)di indonesia, menjadikan ide ini kembali buyar kecuali dengan memperjuangkannya secara praksis.
    menarik memang, bagaimana pemdidikan media (tidak hanya pendidikan berbasis media) dibumikan di sekolah, namun apakah harus dimasukkan ke kurikulum?

    kita butuh senjata (kelompok) yang satu visi dan berkepentingan untuk melakukan penyadaran kepada para konsumen media agar lebih cerdas melakukan fiterisasi isi atau muatan media.
    demikian menurut saya, bang..

  3. Somehow i missed the point. Probably lost in translation🙂 Anyway … nice blog to visit.

    cheers, Knucklehead.

  4. saya melihat literasi media hanya berkutat pada kalangan intelektual.belum mampu memperoleh metode yang pas buat menjamah kalangan non intelektual, karena peran lingkungan dan keluarga juga penting to ? kunjungi mas “nonopik.blogspot.com” saya masih belajar menulis.

  5. assalamu alaikum…

    saya meng-copy tulisan ini untuk bahan referensi tugas mp kuantitatif.

    terima kasih

  6. sama seperti kebanyakan yg lain. aku juga mengcopy ini untuk ngerjakan tugas kuliah….

  7. silakan kunjungi situs kami. beberapa hal yang anda pikirkan sudah lama kami jalankan.

    Thank’s.

  8. kayaknya aku ga beda jauh dech aku ngopy tulisan ini untuk menunjang perkuliahan. He..he.he.!!! thanks ya!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s