Soeharto dalam Representasi Media*

Oleh: Anang Hermawan**

Bersamaan dengan pelbagai bencana yang melanda Indonesia akhir Januari lalu, masyarakat dikejutkan lagi dengan berita terbaru: meninggalnya mantan presiden Soeharto di Rumah Sakit Pusat Pertamina pada tanggal 27 Januari. Di ranah media, mantan orang nomor satu itu pun kembali menjadi primadona pemberitaan. Tentu bukan saja karena popularitasnya sebagai penguasa terlama di negeri ini. Beban hutang negara dan tuduhan korupsi menjadikan Soeharto memiliki sejumlah nilai berita yang sangat layak untuk direpresentasikan. Begitu beragamnya, sehingga pada minggu-minggu terakhir hidupnya sejumlah media menampilkan apapun yang bersangkut paut dengan Soeharto. Ada berita-berita tentang pernak-pernik sejumlah pengagum maupun pembenci Soeharto, mulai dari pelukis wajah Soeharto dengan wiji wijen, dalang pengkoleksi buku-buku tentang Soeharto dan sebagainya.

Para pembaca maupun penonton media yang jeli akan segera menemukan bahwa berita-berita utama seputar Soeharto pada saat itu mengalami pergeseran luar biasa dibandingkan beberapa waktu sebelumnya. Terdapat kontradiksi yang jelas. Dahulu wacana pemberitaan Soeharto umumnya berisi tentang aneka ragam kesalahan yang dialamatkan kepadanya. Sekarang wacana itu tengah berubah. Caci maki dan antipati relatif jarang menempati berita-berita utama media kita.. Bahkan, salah satu televisi terkemuka tidak pernah menyebut secara langsung nama Soeharto dalam pemberitaannya dan menggantikannya dengan sebutan Pak Harto; sama statusnya dengan penyebutan Bung Karno untuk almarhum presiden pertama RI.

(Re)Mitologisasi

Tanpa hendak mengesampingkan secuil berita negatif tentang Soeharto, kesimpulan pertama yang terlihat dari dominannya berita Soeharto di media minggu-minggu terakhir menjelang akhir hayatnya menyajikan gelagat menarik: mitologisasi. Soeharto kembali dihadirkan ke ruang publik sebagai sosok mitis yang tak tersentuh hukum. Sejumlah ajakan untuk memaafkan beliau menyiratkan satu pengakuan bahwa tak layak lagi memperlakukannya sebagai orang yang berstatus tersangka di mata hukum. Citra ini yang nampaknya lebih mencuat ke media. Di tengah krisis figur yang melanda negeri ini, penghormatan terhadap mantan presiden terlama di Indonesia itu masih begitu besar. Sebagian orang mengatakan bahwa hidup ternyata lebih enak di jaman Soeharto, harga barang-barang lebih stabil, orang miskin tak sebanyak sekarang dan seterusnya. Soeharto pun lahir kembali menjadi pahlawan ketika publik bersama-sama kecewa dengan elit politik masa kini yang tidak mampu membebaskan publik dari belitan krisis dan bahkan makin terpuruk dalam krisis yang lebih hebat.

Pemitosan ulang Soeharto dikonstruksi melalui wacana khusus dengan senatiasa meminggirkan wacana yang lain. Dalam kontkes ini, pembicaraan Soeharto sebagai sosok mitis sentiasa meminggirkan wacana tentang penegakan hukumnya pada saat hayatnya. Maka hingar bingar wacana pemaafan terhadap Soeharto yang waktu itu dihimbaukan oleh sejumlah kalangan paralel dengan pengertian ini. Pemaafan konon dianggap sebagai jalan terbaik, karena Soeharto tidak mungkin lagi didekati secara hukum. Dari sudut pandang spiritual maupun kemanusiaan memang demikianlah adanya, orang dituntut oleh ajaran agamanya untuk senantiasa memaafkan orang lain. Memaafkan tentu juga bukan sebuah ajakan sulit, kendati acapkali kita tidak tahu mengapa kita memberi maaf Soeharto. Secara filosofis, ketika kita memaafkan seseorang, berarti kita telah yakin bahwa orang tersebut benar-benar bersalah kepada kita. Padahal, dalam kacamata hukum, salah dan tidaknya Soeharto waktu itu hanya bisa ditentukan oleh keputusan hukum. Maka ajakan pemaafan terhadap Soeharto saat itu cenderung menafikan hukum yang keputusannya bersifat pasti dan mengikat. Hal ini bisa berarti bahwa tokoh satu ini kebal hukum. Padahal, mestinya setiap orang setara di hadapan hukum. Adalah hak masyarakat untuk mengetahui apakah Soeharto melanggar hukum atau tidak, dan pengadilan alias negara-lah yang memiliki otoritas untuk menyelesaikan persoalan status hukum Soeharto.

Di ranah media –khususnya televisi– sosok mitologis Soeharto kembali hadir ketika kita mempertimbangkan wacana-wacana yang cenderung memposisikannya sebagai individu yang tak terjamah hukum itu. Mengingat kembali liputan media televisi kita sepanjang pekan-pekan terakhir sakitnya Soeharto memperlihatkan kesigapan dan kepedulian yang luar biasa terhadap Soeharto, mungkin melebihi liputan apapun. Begitu luar biasanya sehingga untuk seseorang yang belum meninggal, calon makamnya pun sudah ramai dikunjungi orang dan dijaga ketat oleh aparat. Maka menjadi jelas bahwa tanda-tanda verbal dan visual tentang representasi Soeharto menciptakan konotasi baru bahwa Soeharto, meski ia dituduh bersalah oleh banyak orang, tetap merupakan seorang pahlawan. Media memproduksi mitos baru atas Soeharto sebagai seorang pemimpin besar yang miskin kesalahan.

Bagaimanapun mitos baru tentang Soeharto juga mempunyai dimensi tambahan yang disebut naturalisasi sehingga sistem makna yang dipromosikan menjadi masuk akal dan diterima apa adanya. Dalam konteks ini, mitos Soeharto pemimpin yang membawa suskses Indonesia semasa Orde Baru dinaturalisasikan dengan representasi kalangan masyarakat yang menilai bahwa Orde Baru terbukti lebih baik dari Orde Reformasi. Alasan-alasan logis semacam keamanan yang lebih terjamin serta gejolak ekonomi yang tidak fluktuatif seperti sekarang, harga-harga yang cenderung stabil dan sebagainya menjadi semacam pembenar bahwa kepemimpinan Soeharto masih lebih baik dari sekarang. Representasi semacam itu menyajikan konotasi “ketidaksadaran yang begitu mendalam” bahwa krisis yang terjadi sekarang ini mula-mula diakibatkan oleh kebijakan Soeharto di masa lalu. Di samping itu, orang diajak melupakan begitu saja akan otoriterisme politik yang diambil sang tokoh mitologis untuk melanggengkan kekuasaannya.

Jika hal demikian terjadi, maka secara tidak sadar media sesungguhnya telah menggiring kesadaran publik ke arah pengulangan kembali mitologi lama. Soeharto sebagai “Bapak Pembangunan” misalnya, merupakan mitologi terdahulu yang pernah mengalami dekonstruksi pasca pengunduran dirinya sebagai presiden. Dekonstruksi tersebut melahirkan demitologisasi Soeharto, yakni sebentuk mitos baru yang sama sekali bertolak belakang dengan mitos lama. Maka selama orde reformasi kita mengenal mitos Soeharto sebagai sosok penjahat yang telah merugikan keuangan negara dan menyeret negeri ini ke jurang keterpurukan.

Sering dikatakan bahwa ideologi bersembunyi di balik mitos. Dalam konteks ini, segera terlihat bahwa apa tidak ada satu pun aktivitas representasi media tentang Soeharto yang tidak bermakna ideologis. Beroperasinya ideologi representasi media dapat ditengarai melalui asosiasi yang muncul ketika media banyak merepresentasikan berbagai liputan yang bersifat advokatif terhadap Soeharto. Pemitosan kembali Soeharto sesungguhnya menyajikan serangkaian kepercayaan mendasar yang terpendam dalam ketidaksadaran representator / media. Ketidaksadaran adalah sebentuk kerja ideologis yang memainkan peran pemitosan ulang Soeharto. Tanpa sadar, media sebetulnya tengah menjadi agen hegemoni yang justru mempopulerkan Soeharto bukan sebagai manusia biasa yang bisa dikenai hukum.

Sebagaimana halnya mitos, ideologi pun tidak selalu berwajah tunggal. Ada banyak mitos, ada banyak ideologi; kehadirannya tidak selalu kontinyu di dalam representasi media. Nilai ideologis dari mitos muncul ketika mitos tersebut menyajikan nilai-nilai yang dulu dominan di masyarakat. Dahulu masyarakat pernah dijejali dengan mitos-mitos Soeharto sebagai seorang pahlawan yang tak pernah salah. Kemudian muncul lagi mitos-mitos tentang Soeharto sebagai penjahat nomor satu. Kedepan, kita tidak akan pernah tahu mitos apa lagi yang akan muncul, apakah Soeharto akan tetap menjadi pahlawan atau penjahat? Media yang akan turut menentukan! Wallahu’alam bishshowab.

* Tulisan ini dimuat di Harian BERNAS Jogja Edisi 27 Maret 2008

** Penulis adalah Staf Pengajar Prodi Ilmu Komunikasi UII

5 responses to “Soeharto dalam Representasi Media*

  1. saya setuju banget dengan bung Anang. pas dengan apa yang ada dalam pikiran saya. sejak soeharto meninggal 27/01/08 semua media mengekspos besar-besaran. soeharto dibingkai (frame)dengan sedemikian rupa.sehingga media mampu menciptakan realitas baru tentang soeharto di mata rakyat. sehingga ada pepatah”panas 32 tahun hilang karena hujan sehari. jadi benar yang dikatakan oleh salah seorang yang aku tidak tahu namanya bahwa bangsa kita memang bangsa pelupa. padahal Ir. soekarno mengatakan bakwa kita jangan pernah melupakan sejarah (jasmerah)
    semoga media-media di Indonesia mampu menjaga obyektifitasnya dalam ke-sebyektifitasan-nya.
    Semoga
    AMIEN

  2. hai..pak…
    tulisannya bagus.
    Suharto memang yang amat sangat berjasa di negeri ini. tetapi ia juga penjahat yg bisa bilang lebih dari sekadar kelas kakap. untuk itu(menurut saya), walaupun sekarang media banyak menggembar-gemborkan sisi kepahlawannanya dan sosok “putih” nya, tetap harus ada tindak lanjut perdata. ini penting demi nama baik sejarah Indonesia….

    hehe.. saya ngibul pak..

  3. wah blogke bapakne navis wis okeh banget tulisanne, gimana navisisih al hitami

  4. saya setuju dengan pandangan bung anang dan tulisannya jug abgus sekali, namun didalam tulisan bung anang, hnay sebatas mengulas dan mengkritisi sosok Soeharto, Media dan elemen-elemen yang diuraikan oleh bung Anang, tulisan Bung Anang akan semaik bagus dan menarik, kalau bung anang juga menguraikan penjelasna solusinya, sehingga para insan media, atupun yang bersangkutan dalam permasalahan ini bisa menjadi Problem solving.

  5. monopoli media oleh owner atau steak holder terbesar memang bukan hal yang aneh lagi lagi hari ini…

    that’s why we learn how the political economic influence a media from anang hermawan he..he

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s