SESUDUT SEMIOTIK: Sebuah Tawaran Pemaknaan Berita

Anang Hermawan[1]

Pengantar: Memahami Berita Media

Membaca berita merupakan hal yang biasa dilakukan oleh setiap orang yang telah akrab dengan media massa. Kendati demikian, tidak banyak di antara pembaca berita yang berupaya penuh mencari setiap makna dari berita-berita yang dibaca. Pengertian memaknai tentunya lebih dari sekadar membaca dan lantas tahu isi berita. Di ranah penelitian khususnya, diperlukan keterampilan khusus agar pemaknaan terhadap setiap bagian pembentuk berita dapat dilakukan secara sistematik dan menghasilkan makna yang utuh dari apa yang dibaca. Pembacaan yang terstruktur bukan hanya akan membantu pemaknaan, melainkan juga akan sangat membantu dalam menggali gagasan-gagasan yang ada dalam teks-teks berita sekaligus menyimpulkannya.

Tulisan berikut mencoba memberi pengantar tentang sebuah alternatif “membaca” dan memaknai berita (cetak) dengan cara yang berbeda itu. Dirangkum dalam sudut pandang semiotik-sentris, beberapa bagian mencoba menggali kemungkinan-kemungkinan untuk menggali dan menstrukturkan teks berita. Harapannya, modus pembacaan yang tak lazim ini dapat menjadi seperangkat tawaran bagi mereka yang tertarik dengan metode semiotika, khususnya semiotika untuk teks-teks media. Ide dari tulisan ini terinspirasi dari sejumlah kasus yang telah mengalami mediasi (mungkin pula fiksasi) dalam kurun yang relatif panjang. Sehingga ketika seorang yang tertarik mengikuti kasus berita tertentu akan bergairah untuk menggambarkan sekaligus memaknai peran media dalam pemberitaannya. Sebut saja kasus Marsinah, kasus Munir atau kasus lain yang masih menjadi buah bibir masyarakat. Pembaca yang setia dengan kasus-kasus itu akan menemukan banyak materi yang layak untuk digali dan tentunya tidak ada yang tidak meaningfull dari proses penggalian makna yang teratur dan konsisten.

Seringkali isu empirik alias realitas sosiologis yang tengah berlangsung maupun yang telah berlangsung menjadi bahan mediasi yang menarik. Apalagi fenomena tersebut mengandung muatan konfliktual. Ada banyak hal yang dapat kita gali dari mediasi berita semacam ini. Kendati demikian, konflik seungguhnya hanyalah sebagian kecil dari sejumlah perhitungan yang dijadikan landasan dalam penulisan sebuah berita. Masih banyak perhitungan lain yang dijadikan landasan penulisan sebuah berita. Oleh karena itu pantaslah dikatakan bahwa berita pada dasarnya tidak hadir dalam sebuah ruang kosong, bukan pula kategori yang tanpa nilai. Realitas memerlukan syarat tertentu untuk dapat diangkat menjadui sebuah berita. dalam mekanisme karja media, apa yang disebut sebagai news values atau news worthy akan menentukan sebuah realitas layak mendapat tempat untuk dimediasikan. Termasuk dalam mekanisme kerja ini adalah siapa yang berhak menentukan sebuah realitas layak untuk diberitakan.

Mungkin memang demikianlah adanya. Acapkali tidak terpikirkan tentang adanya pertalian kuasa dan kepentingan yang bermain di balik realitas berita. Berita sering dianggap sebagai cermin realitas yang mesti diterima terima apa adanya. Padahal, miskinnya pretensi untuk sekadar mempertanyakan muasal berita, bagaimana sebuah berita dibuat, atas dasar kepentingan apa dan siapa berita itu disajikan kepada pembaca, boleh jadi akan menjebak siapapun untuk mengakui kebenaran berita dan bukan kebenaran realitas itu sendiri. Sekiranya kerumitan seperti itu disadari oleh setiap pembaca, tentunya dapat merangsang serangkaian perdebatan epistemologis tentang entitas realitas berita.

Jika demikian halnya, lantas apa yang disebut sebagai berita? Mengutip dari Oxford English Dictionary, John Hartley mengatakan berita sebagai: tidings; the report or account of recent occurences, brought to or coming to one as new information; new occurences as a subject or report to talk. [2] Berita bukanlah realitas itu sendiri, melainkan lebih sebagai laporan atau catatan mengenai sebuah peristiwa. Maka sering dikatakan bahwa apa yang disebut berita sesungguhnya merupakan realitas tingkat kedua. Realitas pertamanya adalah kejadian empirik yang diberitakan itu. Pemindahan realitas pertama ke dalam realitas kedua tidaklah sesederhana seperti yang kita bayangkan. Ada banyak hal yang menyebabkan sebuah realitas layak untuk diberitakan.. Pola inklusi atau eksklusi realitas ini yang kemudian memunculkan apa yang disebut sebagai news values maupun news worthy. Pada akhirnya berita adalah sebuah konstruksi yang penuh makna, atau semacam realitas yang menjelma ke dalam cerita, sebagaimana halnya halnya ucapan yang tersusun dari unsur-unsur bahasa. Seperti halnya ucapan, berita tersusun luas dari kata-kata; tetapi dalam berita terdapat lebih dari sekadar kata-kata.

Persoalan pemindahan realitas ini menarik, boleh jadi realitas berita telah mengalami penambahan maupun pengurangan dari realitas yang seungguhnya. Berita tidak mungkin lagi secara utuh menghadirkan realitas yang sesungguhnya. Berita hanyalah sebuah representasi, dalam pengertian sekadar mewakili sebagian dari realitas. Realitas yang tampil di media terangkum sebagai hasil konstruksi yang boleh jadi telah mengalami penambahan maupun pengurangan karena turut campurnya faktor subyektivitas dari pelaku representasi alias orang-orang yang terlibat dalam media. Tidaklah sesederhana pandangan reflektif, penggunaan istilah representasi berangkat dari kesadaran bahwa apa yang tersaji di media seringkali tidak selalu persis dengan apa yang ada di realitas empirik. Meyakini realitas media sebagai hasil konstruksi sama halnya dengan memandang suatu fenomena yang dibaratkan seperti gunung es. Permukaan yang terlihat seringkali hanya sebagian kecil dari kenyataan sesungguhnya, dan sebaliknya apa yang ada di bawah permukaan itu justru lebih besar. Pada gilirannya peran pemaknaan oleh ‘pembaca’ menjadi hal penting karena pembacalah yang mempunyai otoritas untuk melihat sejauh mana bagian yang tidak tampak dari gunung es itu dapat diketemukan. Dalam bahasa konstruktivis, peran pembaca untuk mengidentifikasi bagian-bagian yang (seringkali) tak terlihat itu disebut sebagai ‘memaknai’.

Ketika realitas media telah tersaji ke ruang publik maka media tidak lagi mempunyai otoritas untuk memaksa makna-makna yang mereka kehendaki sehingga peran pemaknaan pun berpindah pada pembaca. Pada tingkat ini pembacalah yang selayaknya mempunyai kekuasaan penuh untuk memaknai sebuah berita. Karenanya peran bahasa menjadi penting, bahasa menjadi medium istimewa yang melaluinya sebuah makna diproduksi. Bahasa beroperasi sebagai simbol yang mengartikan atau merepresentasikan makna yang ingin dikomunikasikan oleh pelakunya, atau dalam istilah yang dipakai Hall untuk menyatakan hal ini, fungsi bahasa adalah sebagai tanda.[3] Tanda mengartikan atau merepresentasikan (menggambarkan) konsep-konsep, gagasan atau perasaan sedemikian rupa yang memungkinkan seseorang ‘membaca’, men-decode atau menginterpretasikan maknanya.

Persoalan tanda ini secara lebih serius terangkum dalam satu disiplin yang disebut sebagai semiologi atau semiotik. Semiotika dapat digunakan untuk membongkar praktek bekerjanya makna-makna tersebunyi dalam teks. Bahasa media seringkali menyimpan maknaa-makna yang sifatnya laten. Pembaca yang tidak cukup jeli boleh jadi akan percaya pada apa yang tampak lahir, atau sekadar memaknai makna manifes berita. Secara filosofis, pembacaan seperti itu tentu saja tak pernah salah. Persoalannya adalah bahwa dengan cara seperti itu maka relasi media dan pembaca dalam posisi linear. Kekuasaan makna lantas masih berada di tangan media. Padahal ada banyak hal di luar itu yang mestinya perlu ditinjau kembali, dan sudah semestinya pembaca ditempatkan dalam posisi merdeka ketika berhadapan dengan teks berita. Pembacalah yang sepenuhnya berhak untuk memaknai dan mengambil kesimpulannya sendiri atas apa yang mereka baca. Sudah barang tentu pembaca mesti sadar sepenuhnya: tak selamanya berita media menjadi sumber yang harus dipercaya begitu saja. Pembaca yang jeli akan segera menemukan bahwa terdapat dimensi-dimensi tersembunyi yang mengekor di belakang teks-teks berita. Dan semiotika berkesempatan untuk menjadi –salah satu– metode yang mampu mengungkap dimensi tersembunyi itu.

Terobosan penting pada disiplin semiotika ini adalah diterimanya linguistik sebagai model beserta penerapan konsep-konsepnya dalam fenomena selain bahasa; yang dalam pendekatan ini lantas disebut sebagai teks. Kata semiotika sendiri berasal dari bahasa Yunani, semeion, yang berarti tanda. Dengan demikian semiotika dapat dinyatakan sebagai ilmu tentang tanda. Semiotika menjadi sebuah disiplin yang berurusan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi penggunaan tanda.[4] Salah seorang founding fathers semiologi, Ferdinand de Saussure, menyatakan bahasa sebagai sistem tanda yang mengekspresikan gagasan-gagasan: Language is a system of signs that express ideas, and is therefore comparable to a system of writing, the alphabet of deaf – mutes, symbolic rites, polite formulas, military signals, etc. but is the most important of all these systems.[5]

Dalam semiotika umum, ‘tanda’ dan ‘hubungan’ mempunyai istilah kunci untuk mengudar praktik pertandaan. Demikian pula dengan berita; sebagai sebuah praktik pertandaan, makna yang utuh dari sebuah berita akan sangat tergantung kepada bagaimana hubungan antara berita itu dengan aspek-aspek di luar berita yang menyertainya. Suatu makna diproduksi dari konsep-konsep dalam pikiran seorang pemberi makna melalui bahasa. Representasi merupakan hubungan antara konsep-konsep dan bahasa yang memungkinkan pembaca menunjuk pada dunia yang sesungguhnya dari suatu obyek, realitas, atau pada dunia imajiner tentang obyek fiktif, manusia atau peristiwa. Dengan cara pandang seperti itu, Hall memetakan sistem representasi ke dalam dua bagian utama, yakni mental representations dan bahasa.[6] Mental representations bersifat subyektif, individual; masing-masing orang memiliki perbedaan dalam mengorganisasikan dan mengklasifikasikan konsep-konsep sekaligus menetapkan hubungan di antara semua itu. Sedangkan bahasa menjadi bagian sistem representasi karena pertukaran makna tidak mungkin terjadi ketika tidak ada akses terhadap bahasa bersama. Istilah umum yang seringkali digunakan untuk kata, suara, atau kesan yang membawa makna adalah ‘tanda’ (sign).

Mungkin menjadi lebih menarik untuk menghubungkan persoalan representasi ini ke dalam fenomena bahasa media. Adanya keniscayaan subyektif dari bahasa media tak urung menyajikan kerumitan tersendiri seperti seperti halnya adanya bias kepentingan dari media yang bersangkutan. Lebih lanjut, disadari atau tidak persoalan kepentingan ini seringkali mewakili gambaran ideologis dari pelaku representasi alis media. Lagi-lagi gambaran ini bersifat subyektif, artinya proses pembacaan terhadap bahasa media sama artinya dengan negosiasi antara mental representation pelaku representasi dan mental representation pembacanya. Dengan demikian diskusi mengenai bagaimana makna dari representasi atau teks media pada dasarnya merupakan pelacakan terhadap mental representation yang terkandung dalam awak media, yang kali ini dapat diklaim sebagai perwujudan media itu sendiri.

Untuk menerjemahkan realitas ke dalam tulisan, sadar-atau tidak sadar seorang penulis berita perlu mempertimbangkan sekian banyak keputusan. Disamping itu, selalu terdapat kemungkinan bahwa penulis berita diselimuti oleh selubung ideologi maupun kepentingan tertentu. Beberapa keputusan mungkin berasal dari aktivitas keahlian dan sebagian lagi berasal dari keja ‘seni’ yang keduanya sangat bervariasi antara penulis yang berbeda. Demikian pula halnya dengan tingkat kedalaman informasi yang dihasilkan. Pada akhirnya, kegiatan menulis berita merupakan gabungan antara keahlian dan kreativitas penulisnya, sehingga pengukuran proporsi masing-masing barangkali tidak mungkin terlaksana. Masing-masing dari jenis berita tertentu digunakan untuk keperluan yang berbeda, tergantung pada kedalaman informasi yang ingin disampaikan, maupun sifat informasi yang terjadi.

Kendati demikian, secara analitik ragam kemasan berita tersebut dapat dianalisis dengan cara yang relatif sama, tentu saja dengan kemungkinan kesimpulan yang tentu saja berbeda. Secara umum ragam kemasan berita dapat dibedakan dalam lima tipe utama. Rivers, Mc Intyre dan Work mengetengahkan lima jenis format berita yakni; straight news report, depth report, interpretif report, investigating report dan features.[7] Berita jenis pertama dan kedua biasanya berisi garis besar informasi, untuk straight forward report berisi laporan langsung tentang peristiwa yang tengah berlangsung di lapangan. Berita jenis ini lazim disebut hard news, yang berisi informasi penting tentang apa, siapa, di mana, kapan, bagaimana dan mengapa terjadinya peistiwa (rumus 5 W + 1 H). Sementara berita jenis depth report mulai menampakkan informasi tambahan atau sedikit perluasan dari hard news. Kedua jenis berita ini relatif tidak menampilkan menampilkan opini reporter.

Seperti halnya kedua jenis pertama, interpretif report juga relatif tidak menampilkan opini secara tegas. Kendati demikian berita ini umumnya mengandung pertimbangan nilai. Jenis ini biasanya digunakan untuk menjawab pertanyaan ‘mengapa’ dari sebuah peristiwa. Kecenderungan berita ini adalah pemanfaatan sumber-sumber berita yang biasanya ditampilkan hanya bila memberikan informasi sesuai dengan keinginan reporter. Berita jenis ini jelas berbeda dengan berita jenis keempat, investigating report, yang mencoba menampilkan sebuah masalah dan kontroversi melalui penyelidikan yang relatif komprehensif. Fakta-fakta diperooleh dengan serangkaian interogasi dari pihak-pihak yang berkonflik agar dapat ditampilkan dari sudut pandang yang relatif seimbang. Keunikan berita ini adalah ditampilkannya fakta-fakta tersembunyi dari peristiwa. Berita jenis ini relatif tidak terlalu mempertimbangkan faktor aktualitas. Jenis terakhir, feature, mempunyai maksud yang berbeda. Dalam feature, penulis mencari fakta lain untuk mencari perhatian pembacanya. Penulis feature suatu feature biasanya lebih mementingkan gaya tulisan, boleh jadi berhubungan dengan humor atau human interest daripada pentingnya informasi yang disajikan.

Membaca Tanda, Memaknai Bahasa: (Sekadar) Prosedur Singkat

Dari sudut pandang semiotik-sentris, tujuan pembacaan (boleh juga dibaca: penelitian) terhadap bahasa media adalah untuk menemukan makna terselubung dalam teks. Penemuan makna terselubung (latent meaning) ini tidak mungkin terlaksana ketika pembaca/peneliti tidak menstrukturkan teks. Penstrukturan tersebut dimulai dari lapisan terluar teks yang kemudian dilanjutkan pada lapisan yang lebih dalam. Inti dari proses pemaknaan sebenarnya berada pada lapisan yang lebih dalam ini. Ibarat orang makan buah, pertama kali yang dilakukan adalah mengupas kulitnya baru kemudian menyantap buahnya. Memakan kulit dan buahnya sekaligus tentu tidak dilarang, tetapi cita rasanya pasti akan berubah. Bayangkan orang mengganyang sebutir jeruk sekaligus, rasanya pasti tak karuan, disamping akan dianggap aneh. Dalam konteks penelitian cara seperti itu mungkin disebut tidak taat prosedur atau mungkin dianggap tidak akademis.

Lantas prosedur pemaknaan seperti apa yang dapat dilakukan dengan metode semiotika? Secara umum, membaca dan menstrukturkan teks dapat dilakukan dengan dua cara: sintagmatik dan paradigmatik. Analisis sintagmatik melihat teks sebagai sebuah rangkaian dari stuan waktu dan tata ruang yang membentuk teks. Dalam sebuah kalimat sederhana misalnya, makna membentang dari kiri ke kanan pada sebuah jalur linear. Sebuah sintagma merujuk pada hubungan in presentia antara satu kata dengan tanda-tanda lain atau suatu satuan gramatikal dengan astuan-satuan lain dalam teks pada sumbu horisontal. Persoalan datang ketika pembaca dihadapkan pada sebuah teks yang panjang, terdiri dari rangkaian teks yang beraneka ragam dan tersusun dalam kurun waktu yang relatif lama. Diperlukan sedikit perluasan dari pengertian konsep ini untuk dapat menerjemahkan makna teks-teks yang seperti itu. Sifat analisis sintagmatik memperlihatkan jalinan makna yang terhubung berdasarkan kaidah diakronis: makna dihasilkan dengan melihat rangkaian teks yang berjajar pada tema serupa secara historis. Makna yang dapat dihasilkan dari tingkat analisis ini baru sampai pada makna luar atau manifest meaning dari teks.

Pembacaan berikutnya berikutnya adalah pembacaan secara paradigmatik. Setiap tanda berada dalam kodenya sebagai bagian dari suatu paradigma; suatu relasi in absentia yang mengabaikan tanda tersebut dengan tanda-tanda lain. Pola relasi ini dapat berlangsung berdasarkan prinsip-prinsip persamaan maupun perbedaan sebelum ia muncul dalam teks.[8] Pembacaan secara paradigmatik berusaha mengetahui makna terdalam dari teks, dan karenanya pembacaan ini lebih bersifat sinkronik. Makna terantuk pada suatu titik sejarah dan seolah berhenti di situ, oleh karenanya penggalian pola-pola tersembunyi yang menyertai teks menjadi lebih mungkin dilakukan. Pola tersembunyi ini boleh jadi berupa pola oposisi, atau semacam skema pikir pelaku bahasa dalam representasi.[9] Pola oposisi biner menyajikan petunjuk yang menarik dalam menyederhanakan pembacaan. Oposisi biner membantu mengungkapan bekerjanya kepercayaan atau ideologi pelaku representasi tekstualisasi. Soal ideologi inilah yang mungkin terlihat paling menarik dalam pembacaan secara paradigmatik. Terdapat sejumlah konsep yang kemudian dapat diadopsi untuk menyingkap mental representation dari sang penulis teks. Sebut saja Levi’s Stauss dan Roland Barthes dengan konsep mitos-nya atau sejumlah pengertian ideologi lain dari sejumlah pemikir kritis.

Sebenarnya tidaklah mudah untuk membuat diferensiasi tegas terhadap kedua teknik di atas. Dalam kepekatan tertentu, batas-batas antara sintagma dan paradigma boleh jadi menjadi kabur ketika sebuah teks tengah dibaca. Ini disebabkan karena seringkali penanda makna-makna utama berhamburan secara acak. Dalam teks berita misalnya, tanda-tanda penting yang bermakna suatu saat muncul di antara rangkaian kalimat, paragraf, bahkan gambar sekalipun. Problem diskontinyuitas tanda tentu bukan barang baru, toh tidak ada tanda yang seragam. Seragamnya tanda tentu tak akan bermakna apa-apa. Yang ingin penulis ungkapkan adalah perlu sedikit kehati-hatian dalam menganalisis berbagai tanda dengan melibatkan unsur-unsur sintagmatik dan paradigmatik ini secara relatif konsisten. Dengan demikian makna dan gagasan yang muncul dalam teks dapat dipilah secara relatif mudah. Pemerian prosedur memberikan semacam salah satu petunjuk jalan bagi mereka yang tertarik untuk menggunakannya dalam penelitian semiotika. Tentu masih terdapat kemungkinan ‘petunjuk jalan lain’ yang dapat digunakan.

Akan halnya persoalan makna dari sudut pandang semiotika, menafsirkan berita boleh jadi merupakan semacam karya terjemahan: pembaca menciptakan teks di samping teks. Dalam bahasa van Zoest, hal ini dapat dimulai dengan melihat satuan mikrostruktural dan berlanjut hingga ke tingkat makrostruktural.[10] Akhirnya setiap teks berita menyajikan suatu kesatuan makrostruktural yang koherensinya dapat diinterpretasikan secara umum. Dalam representasi berita, terhadap makna akhir ini maka setiap berita merupakan sebuah argumen. Penelusuran kemungkinan argumen (itupun seringkali lebih dari satu) merupakan kegiatan yang sangat penting bagi pembaca untuk untuk dapat mengurai –setidaknya– makna luar atau gagasan dari pelaku representasi. Permasalahannya adalah bagaimana caranya untuk menyelami makna atau gagasan yang ada di dalam teks? Ringkasnya, pembaca perlu tahu ‘apa yang sebenarnya tengah dibahas dalam teks’. Kesulitan mungkin timbul ketika pembaca/peneliti berhadapan dengan kondisi teks yang agak panjang dan kandungan argumennya tak terbatas. Ketika analisis dibawa ke tingkat makrostruktural, beberapa tanda dengan cepat membentuk suatu keseluruhan koheren yang dapat dianggap sebagai argumen. Sejumlah argumen bersama-sama membentuk argumen baru; itupun petautan antarargumen yang ‘lebih kecil’, ‘lebih dangkal’ yang menjadi argumen baru yang lebih besar, lebih mendalam dan lebih kuat sama sekali tidaklah berbaris rapi membentuk garis gagasan lurus atau linear.

Tanpa petunjuk teknis yang memungkinkan penggiringan interpretasi ke arah penggalian makna atau gagasan dominan dalam teks, tidak terbatasnya tanda yang ada di dalam teks dapat menyebabkan sebuah penafsiran larut dalam problem unlimited semiosis. Sebuah tanda memang dapat dimaknai secara beragam, dan tak jarang meninggalkan petunjuk yang sifatnya multitafsir. Dalam bahasa seorang penganut utama Saussure, Roland Barthes, kemungkinan multitafsir dari tanda ini disebutnya sebagai polisemy, yakni sifat ambigu dari penanda dan kemungkinan yang diberikan oleh penanda tersebut untuk diinterpretasikan.[11] Untuk menghindari kemungkinan unlimited semiosis itu, bagian berikut ini akan mecoba menyodorkan beberapa tawaran untuk pemaknaan sintagmatik dan paradigmatik teks.

Pemaknaan Tingkat Pertama: Analisis Sintagmatik

Analisis sintagmatik mempertimbangkan keberadaan teks dalam kaitannya dengan dimensi waktu. Sebuah sintagma ibarat suatu rantai, sehingga analisis sintamatik berupaya melihat teks sebagai rangkaian peristiwa yang membentuk sejumlah cerita (narratives).[12] Pembacaan sintagmatik memperlihatkan bagaimana relasi tanda yang dikomnikasikan ke dalam struktur tertentu berdasar kaitan waktu atau berada pada sumbu horisontal. Masing-masing unsur dalam struktur teks berkedudukan sejajar. Pertanyaannya adalah, apa saja yang perlu dinilai dalam melihat struktur teks secara sintagmatik? Dalam upaya menjelaskan relasi sintagmatik ini, penulis mengadopsi satu tipe struktural dari Barthes yakni anchorage (penambat) beserta tiga tipe struktural lain yang disajikan Andrew Tolson, yakni argument, montage, dan narrative.[13] Ketiga tipe tersebut dapat dilibatkan bersama dan disesuaikan penggunaannya dalam pembacaan terhadap bahasa media.

Istilah anchorage awalnya diperkenalkan oleh Barthes untuk menunjuk penggunaan tanda verbal tertentu yang mempunyai peran sebagai penunjuk utama makna. Dalam berita, boleh dikatakan bahwa judul berita adalah bentuk paling sederhana dari anchorage ini. Kendati demikian anchorage mempunyai posisi yang paling berkuasa dalam relasinya dengan tanda-tanda lain yang muncul dalam teks sejauh penggunaannya menjadi ‘kata terakhir’. Dengan demikian terdapat semacam hirarki tanda dalam teks, beberapa tanda lebih berarti dibandingkan yang lain. Sebagai kesatua tanda verbal, pada judul berita mampu menciptakan pernyataan yang bersifat otoritatif, sementara tanda-tanda lain hanya sekadar memberikan dukungan atau keterangan. Barthes menyatakan bahwa anchorage ini berfungsi sebagai denomination (penamaan), yang membantu pembaca untuk meletakkannya secara akurat dalam pengalaman masing-masing.[14]

Tipe sintagmatik berikutnya adalah argument. Suatu argumen boleh jadi diungkapkan dalam sebuah proposisi maupun serangkaian proposisi tentang sesuatu hal dan berupaya untuk membujuk atau meyakinkan pembaca bahwa proposisi tersebut benar adanya. Sebagai gejala kejiwaan, proposisi merupakan isi konsep mental yang masih relatif kasar yang akan melahirkan statemen. Pendapat lain mengartikan proposisi sebagai perwujudan ekspresi dalam bentuk kalimat –yang bisa benar namun juga bisa salah. Proposisi menjadi petunjuk penting untuk menggambarkan konfigurasi makna yang menjelaskan isi komunikasi dari teks (berita).[15] Menurut van Zoest, keterpautan antarproposisi ini diatur oleh suatu ‘hukum’ yang tersirat, yakni jalinan logis yang bersama-sama membentuk argumen. Argumen yang besar merupakan tema dari teks. Kebenarannya bersifat intern karena logikanya tergantung pada keterpautan antarproposisi. Sementara di bagian lain, kebenaran proposisi bersifat ekstern, karena menghadapkannya pada semacam tes empirik yakni kenyataan yang tengah direpresentasikan.[16]

Dalam istilah lain, proposisi dapat juga disebut sebagai ‘klaim’. Argumen yang yang disajikan melalui satu atau lebih proposisi mempunyai kemungkinan untuk didukung oleh dua unsur yaitu bukti (atau ‘data’) dan justifikasi (atau ‘garansi’). Struktur sintagma sebuah argumen boleh jadi bersifat serial, yakni ketika satu proposisi mengikuti proposisi lain; tetapi dapat juga bersifat hirarkis di mana masing-masing proposisi selalu menyandarkan pada sejumlah pernyataan yang sifatnya mendukung proposisi utama. Agar memperoleh derajat kepercayaan yang baik, dalam teks berita statemen pendukung diperoleh dengan menerakan kutipan dari sumber berita. Soal kepercayaan terhadap statemen pendukung ini kemudian dapat dipilah menjadi dua, yakni kepercayaan yang bersifat empirik dan kepercayaan yang sifatnya konseptual. Yang pertama berhubungan dengan sejauh mana fakta-fakta yang direpresentasikan dalam teks teruji kebenarannya, dan yang kedua berhubungan masuk akalnya proposisi yang dibangun dalam kalimat.

Setelah argument, tipe sintagmatik berikutnya yang dapat dimaknai adalah montage. Tipe ini menunjuk pada penyatuan atau penyusunan item tanda yang berbeda hingga membentuk sebuah teks. Dapat dikatakan bahwa montage merupakan praktik transformasi material (bahan berita) menjadi sebentuk komposisi. Montage melibatkan perbandingan jenis huruf, penyuntingan dan sebagainya yang akhirnya ditetapkan dalam teks. Kata, kalimat, paragraf, bahkan tanda visual (foto/gambar) yang pada awalnya partial diolah dan disatukan sehingga bersama-sama membentuk teks secara keseluruhan. Dalam keterkaitannya dengan argument, montage berperan penting melakukan penjajaran (juxtaposition); montage dapat berfungsi memberi penekanan persamaan konseptual dengan argumen. Namun acapkali tanda visual sekadar digunakan untuk memberi efek estetik semata.

Tipe sintagmatik terakhir adalah narrative. Tipe ini berhubungan dengan bagaimana teknik penceritaan berlangsung dalam teks. Berbeda halnya dengan montage yang menekankan aspek komposisi, narrative berurusan dengan ‘penataan tanda-tanda, bukan dalam alur logis, melainkan pada susunan kronologisnya’.[17] Pengertian ini untuk menegaskan bahwa tanda-tanda kunci dalam narrative tidaklah mempunyai status sebagai proposisi, tapi hanya sekadar ‘peristiwa’. Narrative acapkali berperan mengembangkan klimaks cerita. Pada tingkat ini terdapat semacam kerja seni untuk menghasilkan ketertarikan pembaca atas rangkaian kronologis dari peristiwa. Dalam jenis berita tertentu, seringkali unsur ini terlihat dari monologue interior, semacam fiksasi penulisan dengan mengimbuhkan ekspresi serta peranan subyek dalam cerita. Tinjauan terhadap aspek naratif ini secara singkat dapat dipilah dalam dua bagian penting yakni cerita (histoirie) dan wacana (discourse). Cerita adalah peristiwa-peristiwa yang terangkai secara temporal dan kausal atau menjadi bagian unsur ‘what’ dari naratif. Sementara wacana dalam konteks naratif adalah ekspresi atau sarana untuk mengkomunikasikan cerita kepada pembaca atau unsur ‘how’ dari teks.

Pemaknaan Tahap Kedua: Analisis Paradigmatik

Setelah melihat struktur teks secara sintagmatik, tahap pemaknaan berikutnya adalah analisis paradigmatik. Analisis ini memusatkan perhatian pada serangkaian tanda-tanda khusus yang menghubungkannya dengan motif representasi. Misalnya acuan-acuan konkret yang berulang-ulang mengacu pada kenyataan. Adalah menarik untuk melihat bagaimana dan mengapa acuan-acuan itu digunakan dalam teks, meski untuk ini analisis akan bersinggungan dengan bidang telaah sintagmatik. Boleh jadi pada tingkat ini akan terdapat kekaburan batas antara dimensi analisis sintagmatik dan paradigmatik. Dengan menggunakan sudut pandang Barthesian, mungkin batas yang relatif tegas baru akan kelihatan ketika analisis paradigmatik memberatkan penilaian pada sejauh mana berfungsinya bahasa konotatif dalam teks. Butir ini memegang peranan berharga untuk membantu produksi asosiasi makna teks. Konotasi tidak saja memberi tambahan atas makna dasarnya, lebih dari itu konotasi memberi indikasi akan motivasi dan sikap ‘sang pengarang’ (wartawan) terhadap realitas yang mereka representasikan.

Terdapat teks berita yang menyajikan informasi secara dingin dan sekadar berisi pokok-pokok peristiwa, namun ada juga yang sifatnya argumentatif. Teks-teks berita yang argumentatif, di samping mempunyai nilai informasi juga mengandung daya pikat tertentu. Seringkali terdapat berita yang bersifat politis, bernuansa retorik yang entah dinyatakan langsung atau hanya sekadar kutipan dari sumber berita. Dari sisi ini saja, sebuah berita sudah menyertakan nilai lain yang bukan isinya semata. Terdapat kepercayaan mendasar yang menjadi titik tolak presuposisif bagi tiap proses representasi. Apa yang tersimpan itu membentuk semacam perkiraan tentang dunia seperti yang tengah berlangsung di realitas pertama. Kendati demikian titik tolak tersebut seringkali tetap tersembunyi, kemunculannya tersirat dan bergerak tak teratur di dalam jalinan teks. Di balik setiap pilihan kata (paradigma) yang dirangkai menjadi kalimat dan paragraf (sintagma), sadar atau tidak sadar telah ikut serta keyakinan yang manjadi basis pandangan dan sikap.

Dari tiap ekspresi maupun konotasi yang terangkai dalam narasi bahasa, keiukutsertaan ‘sesuatu’ itulah yang dianggap penting. Pada tingkat inilah pembacaan paradigmatik menemukan ruangnya. Memaknai bahasa media pada aras paradigmatik menjadi kegiatan yang paling menarik dalam analisis struktural, dengannya pembaca akan menemukan titik tolak ideologis di balik representasi. Tentu saja tidak mudah untuk menarik simpul paradigmatik dari teks. Lantas apa saja yang dapat dinilai menampilkan penanda ideologis? Salah satu teknik untuk melihat kerja ideologis ini adalah melihat apa yang disebut van Zoest sebagai gejala ‘retak dalam teks’. Dalam teks kadangkala terlihat gejala aneh –mungkin ini mirip dengan problem polisemik Barthes– yang menarik perhatian. Kaidah sederhana untuk menengarai gejala ini adalah: bilamana orang menyatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan maksudnya maka hal ini dapat diasumsikan sebagai retak dalam teks. Berbicara tentang satu hal secara berulangkali merupakan gejala retak teks, demikian juga sebaliknya menabukan penggunaan bahasa tertentu juga merupakan retak dalam teks. Contoh paling kental dalam menilik gejala ini adalah dengan melihat penggunaan majas. Dari bentuk eufemisme, ironik, metafora, sarkasme dan berbagai majas lain dapat ditarik makna berharga yang secara paradigmatik mengindikasikan titik tolak presuposisi teks dan demikian memperlihatkan bekerjanya nilai dan keyakinan pelaku representasi.

Beroperasinya ideologi juga dapat ditengarai dengan menengarai asosiasi yang melekat dalam bahasa konotatif. Barthes mengatakan penggunaan konotasi dalam teks ini sebagai: penciptaan mitos. Ada banyak mitos yang diciptakan media di sekitar kita, misalnya mitos tentang kecantikan, kejantanan, pembagian peran domestik versus peran publik dan banyak lagi. Mitos ini bermain dalam tingkat bahasa yang oleh Roland Barthes disebutnya ‘adibahasa’ (meta-language)[18] Penanda konotatif menyodorkan makna tambahan, namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya.[19] Dibukanya medan pemaknaan konotatif ini memungkinkan pembaca memakanai bahasa metafor atau majazi yang makanya hanya dapat dipahami pada tataran konotatif. Dalam mitos, hubungan antara penanda dan petanda terjadi secara termotivasi. Pada level denotasi, sebuah penanda tidak menampilkan makna (petanda) yang termotivasi. Motivasi makna justru berlangsung pada level konotasi.

Barthes menyatakan bahwa mitos merupakan sistem komunikasi juga, karena mitos ini toh merupakan sebuah pesan juga. Ia menyatakan mitos sebagai “modus pertandaan, sebuah bentuk, sebuah “tipe wicara” yang dibawa melalui wacana. Mitos tidaklah dapat digambarkan melalui obyek pesannya, melainkan melalui cara pesan tersebut disampaikan.[20] Apapun dapat menjadi mitos, tergantung dari caranya ditekstualisasikan. Dalam narasi berita, pembaca dapat memaknai mitos ini melalui konotasi yang dimainkan oleh narasi. Pembaca yang jeli dapat menemukan adanya asosiasi-asosiasi terhadap ‘apa’ dan ‘siapa’ yang sedang dibicarakan sehingga terjadi pelipatgandaan makna. Penanda bahasa konotatif membantu untuk menyodorkan makna baru yang melampaui makna asalnya atau dari makna denotasinya.

Sering dikatakan bahwa ideologi bersembunyi di balik mitos. Ungkapan ini ada benarnya, suatu mitos menyajikan serangkaian kepercayaan mendasar yang terpendam dalam ketidaksadaran representator. Ketidaksadaran adalah sebentuk kerja ideologis yang memainkan peran dalam tiap representasi. Mungkin ini bernada paradoks, karena suatu tekstualisasi tentu dilakukan secara sadar, yang dibarengi dengan ketidaksadaran tentang adanya sebuah dunia lain yang sifatnya lebih imaginer. Sebagaimana halnya mitos, ideologi pun tidak selalu berwajah tunggal. Ada banyak mitos, ada banyak ideologi; kehadirannya tidak selalu kontintu di dalam teks. Mekanisme kerja mitos dalam suatu ideologi adalah apa yang disebut Barthes sebagai naturalisasi sejarah. Suatu mitos akan menampilkan gambaran dunia yang seolah terberi begitu saja alias alamiah. Nilai ideologis dari mitos muncul ketika mitos tersebut menyediakan fungsinya untuk mengungkap dan membenarkan nilai-nilai dominan yang ada dalam masyarakat.

(Bukan) Kesimpulan

Membaca teks (berita) pada dasarnya mensyaratkan kehati-hatian. Ini maklum, karena berita adalah sejenis makhluk baru yang sengaja diciptakan di luar realitas asalnya. Ada konstruksi di situ, peristiwa yang tengah berlangsung dimasyarakat ditekstualisasikan dan dimediasikan. Dalam perspektif semiotika, proses tekstualisasi ini selalu melibatkan tanda dan kode. Kenyataannya semua hal dapat menjadi tanda kemudian dimaknai sesuai pengalaman budaya pembaca. Persoalannya adalah ketika kita menghadapi beragam tanda apa yang harus kita lakukan dengannya. Menghadapi teks –apalagi berita yang terjalin panjang selama kurun waktu yang lama– ibarat menjelajahi rimba tanda. Ungkapan ini tentu metafor belaka, untuk mengatakan bahwa ketika pembacaan dilakukan dengan cara yang tidak hati-hati maka makna yang dihasilkan tentu tidak akan ‘pas’ (alih-alih untuk mengatakan ketersesatan pemaknaan).

Sebagaimana bermain di alam gagasan, makna tidak selalu berwajah tunggal. Ada banyak makna yang dapat dihadirkan dalam pembacaan. Gerakan makna pun tidak selalu kontinyu, penanda-penanda makna seringkali datang silih berganti, tumpang tindih, saling silang. Permutasi tanda dari satu tempat ke tempat lain tak jarang bekerja secara acak, kadang timbul dan kadang pula tenggelam. Malah sebagian tanda muncul lagi dalam bentuknya yang telah mengalami metamorfosis. Demikian pula ideologi, sebagaimana tanda yang bergerak tak teratur, ideologi pun dapat hadir dalam beragam wajah. Kemajemukan ideologi boleh jadi setara dengan beragamnya wajah penanda. Begitu rumitnya tanda-tanda dalam berita sehingga pembicaraan tentang sejumlah karakterstik sintagmatik dan peradigmatik teks (berita) di atas pada dasarnya hanyalah dalam rangka penyederhanaan. Dengan demikian pengudaran teks (explication de texte) untuk menengarai makna dan ideologi dapat berlangsung lebih efektif.

Ibarat peta, apa yang penulis paparkan di atas hanyalah sebuah alternatif tawaran yang mungkin dapat dilakukan. Dan kebetulan secara analitik penulis menggunakan pijakan tulisan berdasarkan perspektif semiotik a la Sausurrean. Mungkin konsistensi epistemologisnya tak terlalu tepat benar, karena pemerian modus operandi pemaknaan pada akhirnya harus meminjam sejumlah konsep lain. Di samping itu tulisan ini menampakkan garis persinggungan yang kabur antara analisis sintagmatik dan analisis paradigmatik. Kendati demikian batas kedua level tersebut akan terlihat ketika pembacaan atau analisis telah sampai pada aspek narrative dari teks. Pembaca yang jeli akan segera menemukan dua bagian narrative yang dapat dipisahkan: cerita (histoirie) dan wacana (discours). Level sintagmatik hanya akan bermain pada level cerita, sementara level paradigmatik akan memberatkan diri pada analisis terhadap discours. Singkatnya, analisis sintagmatik berbicara pada level ‘puitik’ berita dan analisis paradigmatik bermain di wilayah ‘politik’ teks.

Satu catatan penting dalam dari tawaran modus pemaknaan pada tulisan ini adalah kemungkinan berlangsungnya peminggiran terhadap tanda-tanda yang memang kurang penting. Bukan berarti ungkapan ini hendak menolak prinsip dasar dalam semiotika struktural “tidak ada yang tidak dianggap penting”. Bagaimanpun, dalam analisis semiotika (penelitian) diperlukan semacam petunjuk teknis untuk mengudar teks. Hal demikian penting untuk menghindari resiko unlimited semiosis. Sebagai alternatif, tentu saja masih terbuka kemungkinan untuk dikoreksi atau bahkan ditolak sama sekali. Masih terdapat kemungkinan lain utnuk mengudar teks dengan cara yang sama sekali berbeda. Bagaimanapun alternatif ini hanya mengambil satu pijakan, yang diambil dari perspektif Sausssurean dengan memaknai teks dalam dua tingkatan (dyadic). Ini berbeda dengan perpektif Peircean yang memandang teks dalam tiga tingkatan (triadic). Sekiranya analisis teks dilakukan dengan metode a ala Peircean, boleh jadi hasilnya akan sama sekali berbeda.

*******


[1] Staf Pengajar Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

[2] John Hartley, Understanding News, Routledge, London, 1989. hal. 11.

[3] Stuart Hall (Ed.), Representation: Cultural Representations and Signifying Practices, Sage Publications, London,

1997, hal.5.

[4] Aart van Zoest, Semiotika: Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa yang Kita Lakukan Dengannya, Yayasan Sumber Agung, Jakarta, 1993, hal. 1.

[5] Arthur Asa Berger, Media Analysis Techniques, Sage Publications, Beverly Hills, California, 1982, hal. 16.

[6] Hall, op. cit., hal. 17.

[7] William L. Rivers, Bryce McIntyre, Alison Work, Editorial (edisi Bhs. Indonesia), Remaja Rosdakarya, Bandung, 1994,

hal. 6.

[8] Kris Budiman, Kosa Semiotika, LKiS, Yogyakarta, 1999, hal. 89.

[9] Berger, op.cit., hal. 30.

[10] van Zoest, op.cit., hal. 99.

[11] Mark Gottdiener, Postmodern Semiotics: Material Culture and The Forms of Postmodern Life, Blackwell,

Massachusetts, 1995, hal. 20.

[12] Berger, op.cit., hal. 24.

[13] Andrew Tolson, Mediations: Text and Discourse ini Media Studies, Arnold, London, 1996, hal. 28-43.

[14] Ibid.

[15] Aminudin, Semantik: Pengantar Studi Tentang Makna, Sinar Baru, Bandung, 1998, hal. 51.

[16] Aart van Zoest: “Peranan Konteks, Kebudayaan dan Ideologi di dalam Semiotika” dalam Panuti Sudjiman dan Aart

van Zoest (Ed), Serba-Serbi Semiotika, Gramedia, Jakarta, 1996, hal. 91.

[17] Tolson, op.cit., hal. 39.

[18] Dominic Strinati, An Introduction to Theories of Popular Culure, Routledge, New York, 1995, hal. 113.

[19] Manneke Budiman: “Semiotika dalam Tafsir Sastra: Antara Fiffaterre dan Barthes”, dalam T. Christomy dan Untung

Yuwono (Ed.), Semiotika Budaya, PPKB, Jakarta, 2004, hal 255.

[20] Ibid., hal. 112. Lihat juga Roland Barthes: “Myth Today” dalam John Storey (Ed.) Cultural Theory and Cultural Culture: A Reader, Harvester Heatsheaf, New York, 1994, hal. 107.

*****************

Daftar Putaka

Aminudin, Semantik: Pengantar Studi Tentang Makna, Sinar Baru, Bandung, 1998

Berger, Arthur Asa, Media Analysis Techniques, Sage Publications, Beverly Hills, California, 1982.

Budiman, Kris, Kosa Semiotika, LkiS, Yogyakarta, 1999.

Christomy, T. dan Untung Yuwono (Ed.), Semiotika Budaya, PPKB, Jakarta, 2004

Gottdiener, Mark, Postmodern Semiotics: Material Culture and The Forms of Postmodern Life, Blackwell, Massachusetts, 1995.

Hall, Stuart (Ed.), Representation: Cultural Representations dan Signifying Practices, Sage Publications, London, 1997.

Hartley, John, Understanding News, Routledge, London, 1989.

Rivers, William L., Bryce McIntyre & Alison Work, Editorial (edisi Bhs. Indonesia), Remaja Rosdakarya, Bandung, 1994

Storey, John (Ed.) Cultural Theory and Cultural Culture: A Reader, Harvester Heatsheaf, New York, 1994.

Strinati, Dominic, An Introduction to Theories of Popular Culure, Routledge, New York, 1995

Sudjiman, Panuti & Aart van Zoest (Ed), Serba-Serbi Semiotika, Gramedia, Jakarta, 1996

van Zoest, Aart, Semiotika: Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa yang Kita Lakukan Dengannya, Yayasan Sumber Agung, Jakarta, 1993.

8 responses to “SESUDUT SEMIOTIK: Sebuah Tawaran Pemaknaan Berita

  1. Wah Pak Anang Hermawan, saya berminat sekali tentang semiotik, terutama dalam budaya komunikasi visual.
    Apakah boleh saya bertanya2 lain kali?
    trims

  2. Silakan! Terima kasih mau berbagi dengan saya. Mudah2an bermanfaat.

  3. saya lagi belajar mengenai semiotika tapi saya kurang mengerti mengenai objek 2 atau 3 dimensi yang dianalisis menurut semiotika struktural….bisa dibantu nggak???

  4. InsyaAllah, saya tulis kapan-kapan. thanks.

  5. Roderick Adrian

    Mas Anang, thanks untuk tulisannya. Kalo saya boleh tahu, Barthes membahas anchorage dalam bukunya yang mana atau dia memperkenalkan istilah tersebut hanya dalam artikel2 saja??

  6. Assalamualaikum Wr.Wb

    mas anang, saya mahasiswi jurusan sastra prancis. sekrang saya sedang membuat skripsi tentang semiotik pada fabel. saya ingin mengkaitkan semiotik pada fabel dengan fenomena masyarakat pada saat itu. saya butuh penjelasan mengenai semiotik pada fabel dikaitkan dengan budaya. saya berharap mas anang bisa membantu saya. terima kasih sebelumnya

  7. assalamualaikum

    mas, saya mahasiswa jurusan jurnalistik, saya lagi ngambil skripsi, tapi masih bingung nentuin kasus yg mau di teliti.
    Kekeh pake semiotik sih, pokok bahasannya tentang foto jurnalistik, tapi bingungnya jarang banget foto yang berseri (kasus berlanjut sampai 5 edisi). nah itu dia yang jadi masalahnya mas, mohon pencerahannya mas, emmmm sama referensi buku-buku tentang pemaknaan foto mas ada ide gk???
    makasih ya sebelumnya.

  8. terima kasih atas info tulisannya. kalau ada tentang sintagmatiknya dong! bagus, aku mau menulis seperti mas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s