MARSINAH DALAM REPRESENTASI MEDIA: Analisis Semiotika Berita Kasus Marsinah pada Majalah TEMPO 1993-1994

 

ANANG HERMAWAN[1]

 

During New Order, murder of Marsinah have been interesting phenomenon to media representations. The analysis of news of Marsinah case on TEMPO until October 1993 to June 1994 shows us to interesting fact. Not only the media perform it function as image maker, representations of that case also create particular effect in production myth, especialy on Marsinah her self.

Kata-kata kunci: Representasi; semiotika; mitos; analisis sintagmatik; analisis paradigmatik.

 

 

A. Pendahuluan

“Apa gerangan Marsinah bagiku, bagimu? Pada suatu hari berita tertulis, dan kita pun tahu: Marsinah adalah seorang buruh perempuan, di sebuah pabrik arloji di Sidoarjo, Jawa Timur. Ia ditemukan mati, dalam umur 23 tahun, empat hari setelah ia ikut mogok menuntut perbaikan nasib. Di tubuhnya tampak bekas penganiayaan.

Kita belum tahu siapa yang membunuhnya, kalaupun ia mati terbunuh. Kita belum tahu kenapa ia dianiaya. Polisi sedang mengusut kasus ini, dan kita belum tahu bagaimana mereka mengusutnya dan apa pula hasilnya.

Apa Marsinah bagiku, bagimu? Kini Marsinah adalah sebuah nama dalam sebuah berita, dan antara kita dan dia ada jarak, Berita, bagaimanapun juga bercerita tentang sesuatu yang telah (atau terkadang “sedang”) terjadi, sebuah presentasi yang datang dengan kerangka dan kemasan yang ditentukan dari luar kita.”…………..

(Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir, TEMPO, 21 Agustus 1993)

Memperbincangkan marutnya dinamika perburuhan selama dekade terakhir nampaknya cukup mengingatkan pada nama ini: Marsinah. Terdapat alasan pasti untuk menghadirkan kembali ingatan tentang orang tersebut: misteri kematiannya yang tidak pernah terungkap hingga sekarang. Tidak pernah diketahui secara pasti oleh siapa ia dianiaya dan dibunuh, kapan dan di mana ia mati pun tak dapat diketahui dengan jelas, apakah pada Rabu malam 5 Mei 1993 atau beberapa hari sesudahnya. Liputan pers, pencarian fakta, penyidikan polisi, pengadilan sekalipun nyatanya belum mampu mengungkap kasusnya secara tuntas dan memuaskan. Kendati hakim telah memvonis siapa yang bersalah dan dihukum, orang tak percaya begitu saja; sementara kunci kematiannya tetap gelap sampai kini, lebih dari satu dasawarsa berselang.

Barangkali memang bukan fakta-fakta pembunuhan itu yang menjadi penting di sini, melainkan jalinan citra yang lantas tersaji melalui serangkaian representasi media yang rumit. Para pembunuh mengesankan Marsinah diperkosa. Segenap aktivis menyanjungnya sebagai teladan kaum pejuang buruh. Para aparat pusat dibantu aparat setempat konon merekayasa penyidikan sekaligus membuat skenario pengadilan, termasuk dilibatkannya tersangka palsu dalam rangkaian pengungkapan kasus tersebut. Tak ketinggalan, para aktivis hak asasi manusia menganugerahi Yap Thiam Hien Award bagi kegigihannya. Termasuk para seniman yang mengabadikannya dalam monumen, patung, lukisan, panggaung teater dan seni rupa instalasi; para feminis mengagungkannya sebagai korban kekerasan terhadap perempuan dan khalayak awam yang prihatin dan simpati memberi sumbangan bagi keluarganya.

Pada aras citra inilah tulisan ini kemudian mengambil pijakan. Mungkin orang tak akan banyak tahu siapa Marsinah seandainya ia tidak dibunuh dan kasusnya tidak gencar diberitakan oleh media massa. Ia tidak hanya dianggap mewakili “nasib malang” jutaan buruh perempuan yang menggantungkan masa depannya pada pabrik-pabrik padat berupah rendah, berkondisi kerja buruk sekaligus tak terlindungi hukum. Lebih dari itu, mediasi dan artikulasi pembunuhannya menyediakan arena diskursif bagi pertarungan berbagai kepentingan dan hubungan kuasa: buruh-buruh, pengusaha, serikat buruh, lembaga swadaya masyarakat, birokrasi militer, kepolisian dan sistem peradilan.[1] Media massa mengambil peran yang besar dalam pencitraan Marsinah sehingga ia hadir sebagai pahlawan. Marsinah yang notebene dalah korban dari kesewenangan majikan –dan aparat– tiba-tiba hadir menjadi sosok yang berbeda. Bukan hanya karena soal keberaniannya menuntut, kematiannya itu yang membuatnya seakan menjadi pembenaran betapa buruh senantiasa berada pada posisi kalah ketika berada diantara dua kutub: pengusaha dan penguasa.

Representasi Marsinah di media tak urung mengangkat almarhumah menjadi sosok heroik, bahkan dalam batas-batas tertentu membawanya ke dalam tingkat mitos. Pada berita misalnya, penempatan Marsinah sebagai pahlawan dapat ditengarai melalui petunjuk-petunjuk konotatif yang terserak di sela-sela reportase. Simak kutipan berikut (tanda garis bawah dari penulis):

“Namun ada yang berbeda dari peringatan itu, yakni tampilnya “bintang” hak asasi manusia. Dia adalah Marsinah, seorang buruh wanita yang tewas setelah melakukan unjuk rasa menuntut perbaikan sistem upah di Sidoarjo, Jawa Timur.

Serikat pekerja Indonesia (SPSI) telah mengangkatnya sebagai “pejuang buruh” (Tempo, 11 November 1993). Marsinah, alumni SMA Muhammadiyah Nganjuk, juga diusulkan menjadi pahlawan buruh dalam Tanwir II Muhammadiyah, yang diselenggarakan pekan ini di Surabaya.

Puncak penghargaan untuk “bintang” ini adalah pemberian Yap Thiam Hien Award – sebuah penghargaan untuk perjuangan hak asasi manusia. Alasan penghargaan oleh Yayasan Pusat Studi Hak Asasi Manusia (Yapusham) itu, menurut ketua Yapusham Mulya Lubis, Marsinah dipandang sebagai figur yang berani dan konsisten memperjuangkan hak-hak buruh dan melawan kesewenang-wenangan.”

(“Marsinah Award dari Buruh”, TEMPO, 18 Desember 1993)

Terdapat makna implisit yang menyertai kutipan berita tersebut, yang bermain pada petunjuk konotatif dan menggerakkan pemitosan atas Marsinah. Menyimak kata bintang menyiratkan arti peninggian posisi khusus bagi Marsinah sehingga memberi kesan luhur atau mulia. Hal ini ditegaskan lagi dalam struktur kalimat berikutnya dengan memadankan kata tersebut dengan frase pejuang buruh, pahlawan buruh. Memberikan derajat mitis (pahlawan/hero) dapat juga ditengarai dari struktur kalimat lain ketika penempatan sub kalimat memperjuangkan hak-hak buruh dioposisikan dengan kesewenang-wenangan.

Bagaimana Marsinah dipahlawankan nampaknya bukanlah satu-satunya gelagat mitos yang ingin ditampilkan TEMPO dalam berita-beritanya. Terdapat sejumlah peluang untuk hadirnya makna-makna baru, mungkin malah mitos-mitos baru yang turut hadir dalam rangkaian reportase. Mitos tentang “sesatnya peradilan” kasus tersebut menjadi contoh menarik untuk kemungkinan ini:

“Semula ingin memberi pelajaran karena Marsinah dianggap terlalu vokal mendukung pemogokan, kini beberapa terdakwa menjadi korban skenario yang salah. Dan Yudi Susanto tetap dianggap berperan.”

(“Marsinah Terlanjur Tewas”, TEMPO, 5 Maret 1994)

Di lain berita, muncul juga kemungkinan mitos tentang “militerisme” yang turut serta dalam rangkaian penyidikan kasus Marsinah:

Ketika Tersangka Dijemput Begitu Saja

Cara petugas tak dikenal menangguk calon tersangka dalam kasus pembunuhan Marsinah mengundanng komentar keras di kalangan praktisi hukum. Kalau cara penculikan dibenarkan, negara ini mau jadi apa?

A. Permasalahan

Kata-kata konotatif yang dihasilkan dari beberapa kutipan di atas memberi peluang untuk memberi makna yang sama sekali berbeda dengan arti denotatif yang dihasilkan. Sehingga dengan mempertimbangkan pemahaman awal yang terserak pada paparan sebelumnya, dapatlah ditemukan titik awal untuk membuka permasalahan penelitian yakni (1) makna atau gagasan-gagasan apa saja yang disajikan TEMPO dalam reportase kasus tersebut, dan (2) mitos-mitos apa yang dapat digali dari reportase TEMPO atas kasus Marsinah

Selama kurang lebih delapan bulan TEMPO terlibat aktif dalam reportase kasus Marsinah terhitung sejak berita pertama tanggal 16 Oktober 1993 sampai dengan berita terakhir (21 Mei 2004) menjelang majalah tersebut dibredel. Selama masa tersebut tercatat 18 kali pemberitaan termasuk 2 Laporan Utama yang terdiri dari beberapa judul berita. Adapun berita secara keseluruhan tercatat sejumlah 30 judul. Disamping itu terdapat 5 kolom lepas yang berbicara tentang kasus Marsinah dan 2 Catatan Pinggir dari pemimpin redaksi TEMPO saat itu (Goenawan Mohamad).

B. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk menggali sejauh mana mitos-mitos yang secara implisit hadir dalam pemberitaan, termasuk diantaranya adalah pemitosan atas Marsinah itu sendiri. Hasil penelitian yang diharapkan dapat memberikan manfaat akademis dan manfaat praktis/sosial. Secara akademis, penelitian diharapkan mampu memberikan kontribusi pemikiran dan gagasan ilmiah bagi disiplin ilmu komunikasi. Penelitian ini berupaya mengungkap dimensi-dimensi lain yang hadir dalam fenomena bahasa (struktural) obyek yang diteliti. Secara sosial/praktis, penelitian ini diharapkan menjadi satu alternatif ‘cara membaca’ untuk menemukan makna-makna terselubung dalam teks.

C. Kerangka Pemikiran

1. Konsep Representasi Realitas

Pertama kali harus dipahami bahwa persoalan praktik pemberitaan alias representasi realitas pertama (empirik) menjadi realitas kedua (berita) mengandung persoalan filosofis yang tidak sederhana. Di balik apa yang disebut reportase/berita seringkali terkandung ‘sesuatu’ yang misterius, dan inilah yang akan akan dilacak dalam penelitian ini. Bagian ini mencoba mengelaborasi secara singkat beberapa konsep yang relevan sebagai titik tolak pemahaman lebih lanjut.

Konsep mengenai representasi hadir menempati tempat baru dalam studi budaya. Apa yang disebut sebagai peralihan budaya (cultural turn) dalam ilmu sosial dan humaniora cenderung menekankan pada pentingnya makna sehingga budaya digambarkan sebagai proses produksi dan pertukaran makna yang terus menerus. Dalam konteks ini, ketika pemberitaan dipandang sebagai produk kebudayaan, maka menjadi penting untuk melihat bagaimana media memproduksi dan mempertukarkan makna melalui praktik bahasanya. Berita, sebagai keluaran akhir dari praktik bahasa media dapat dipahami sebagai produksi makna. Sebagai kesatuan organik, media merepresentasikan pikiran dan gagasan-gagasannya melalui berita yang mereka hadirkan ke ruang publik. Persoalannya adalah bahwa ketika berita telah hadir ke ruang publik maka media tidak lagi mempunyai otoritas untuk memaksa makna-makna yang mereka kehendaki, peran pemberian makna berpindah pada pembaca.

Pada gilirannya, ketika pembaca mempunyai otoritas mutlak untuk memaknai sebuah berita, maka peran bahasa menjadi penting. Bahasa menjadi medium istimewa yang melaluinya sebuah makna diproduksi. Bahasa beroperasi sebagai simbol yang mengartikan atau merepresentasikan makna yang ingin dikomunikasikan oleh pelakunya, atau dalam istilah yang digunakan Stuart Hall untuk menyatakan hal ini, fungsi bahasa adalah sebagai tanda.[2] Tanda mengartikan atau merepresentasikan (menggambarkan) konsep-konsep, gagasan atau perasaan sedemikian rupa yang memungkinkan seseorang ‘membaca’, men-decode atau menginterpretasikan maknanya. Persoalan tanda ini secara lebih serius terangkum dalam satu disiplin yang disebut sebagai semiologi atau semiotik. Terobosan penting pada disiplin ini adalah diterimanya linguistik sebagai model beserta penerapan konsep-konsepnya dalam fenomena lain yang bukan hanya bahasa; dan dalam pendekatan ini lantas disebut sebagai teks.

Suatu makna diproduksi dari konsep-konsep dalam pikiran seorang pemberi makna melalui bahasa. Representasi merupakan hubungan antara konsep-konsep dan bahasa yang memungkinkan pembaca menunjuk pada dunia yang sesungguhnya dari suatu obyek, realitas, atau pada dunia imajiner tentang obyek fiktif, manusia atau peristiwa. Dengan cara pandang seperti itu, Hall memetakan sistem representasi ke dalam dua bagian utama, yakni mental representations dan bahasa.[3] Mental representations bersifat subyektif, individual; masing-masing orang memiliki perbedaan dalam mengorganisasikan dan mengklasifikasikan konsep-konsep sekaligus menetapkan hubungan di antara semua itu. Sedangkan bahasa menjadi bagian sistem representasi karena pertukaran makna tidak mungkin terjadi ketika tidak ada akses terhadap bahasa bersama. Istilah umum yang seringkali digunakan untuk kata, suara, atau kesan yang membawa makna adalah tanda (sign).

Adalah menarik untuk menghubungkan persoalan representasi ini ke dalam fenomena pemberitaan kasus Marsinah. Bagaimanapun reporter adalah subyek yang mempunyai mental representation tersendiri yang mungkin tidak sama dengan pembacanya. Subyektivitas menjadi keniscayaan sehingga suatu realitas berita sesungguhnya menyimpan sejumlah persoalan seperti bias kepentingan maupun ideologi. Dengan demikian sesungguhnya diskusi mengenai bagaimana media merepresentasikan sebuah kasus berita pada dasarnya merupakan pelacakan terhadap mental representation yang terkandung dalam reporter, yang kali ini dapat diklaim sebagai perwujudan media itu sendiri.

2. Semiotika Sebagai Pendekatan untuk Memahami Bahasa Media

Sekadar untuk sebuah cara memulai pemahaman, komunikasi melibatkan tanda dan kode. Tanda adalah material atau tindakan yang menunjuk pada ‘sesuatu’, sementara kode adalah sistem di mana tanda-tanda diorganisasikan dan menentukan bagaimana tanda dihubungkan dengan yang lain. Pada tulisan ini pemahaman tentang komunikasi diadopsi dari definisi yang dikemukakan oleh John Fiske, yakni komunikasi sebagai “interaksi sosial melalui pesan”.

Terdapatnya banyak definisi komunikasi tidak mungkin untuk dibahas terlalu jauh dalam tulisan ini. Ringkasnya, cukuplah dikatakan bahwa pada dasarnya studi komunikasi merefleksikan dua aliran utama, yakni aliran proses dan aliran semiotik.[4] Pada aliran pertama, basis pengertiannya cenderung linear, seperti halnya definisi komunikasi yang menyatakan bahwa ‘komunikasi adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan.’ Aliran ini memberi perhatian utama pada bagaimana sender mentransmisikan pesan kepada receiver melalui channel. Persoalan seperti efiesiensi dan akurasi mendapat perhatian penting pada aliran ini, sehingga ketika efektivitas komunikasi dinilai kurang atau gagal maka pemeriksaan akan segera dilakukan pada elemen-elemen proses untuk menemukan letak kegagalan dan kemudian memperbaikinya.

Berbeda halnya dengan tradisi pertama, perpektif kedua memandang komunikasi sebagai produksi dan pertukaran makna (productions and exchange of meaning). Pandangan ini memperhatikan bagimana pesan berhubungan dengan orang-orang untuk memproduksi makna. Semiotik membalik peran penguasaan makna dari pengirim pesan ke penerima pesan. Penerima pesan mempunyai otoritas mutlak untuk menentukan makna-makna yang ia terima dari pesan, sehingga peran sender cenderung terabaikan. Demikian juga, apa yang disebut sebagai pesan (message) pada paradigma ini disebut sebagai teks, apapun jenisnya. Jangkauan pemaknaan akan sangat tergantung pada pengalaman budaya dari receiver, yang dalam paradigma seniotik disebut sebagai ‘pembaca’ (reader), dan dengan demikian tidak ada lagi istilah kegagalan komunikasi.

Merujuk paradigma komunikasi kedua, media massa merupakan bagian kebudayaan kontemporer yang memproduksi makna. Bahasa media menjadi arena representasi, melaluinya media mengahadirkan kembali realitas berdasarkan kode-kode, konvensi, plus ideologinya. Maka untuk memahami bahasa media seringkali tidak cukup hanya dengan mengkaji apa yang tersaji begitu saja. Singkatnya, representasi realitas memiliki arti yang sama sekali berbeda dengan reflesi realitas. Jika refleksi berarti sekadar menampilkan realita apa adanya, maka representasi mempunyai dimensi lebih. Terdapat kemungkinan serangkaian ‘pesan’ lain yang mengikuti penggunaan bahasa media, baik sengaja/disadari atau tidak.

Pusat perhatian semiotika pada kajian komunikasi adalah menggali apa yang tersembunyi di balik teks/bahasa. Terobosan penting dalam semiotika adalah digunakannya linguistik sebagai model untuk diterapkan pada fenomena lain di luar bahasa. ‘Tanda’ dan ‘hubungan’ kemudian menjadi kata-kata kunci di dalam analisis semiotika. Usaha-usaha menggali makna teks harus dihubungkan dengan aspek-aspek lain di luar bahasa itu sendiri atau sering juga disebut sebagai konteks. Teks dan konteks menjadi dua kata yang tak terpisahkan, keduanya berkelindan membentuk makna.

3. Analisis Mitos: Sebuah Perangkat Kajian Semiotika

Analisis kritis media berupaya mempertautkan hubungan antara media massa dan keberadaan struktur sosial. Analisis kritis menguji kandungan-kandungan pesan media, bagaimana teks/bahasa media dikaji, dan bagaimana makna yang dapat dimunculkan dari teks. Bagian berikut akan sedikit mengetengahkan gagasan-gagasan semiotis yang dikemukakan oleh seorang penganut Saussure dari Perancis, Roland Barthes. Gagasan-gagasannya memberi gambaran yang luas mengenai media kontemporer. Ketika mempertimbangkan sebuah reportase atau berita, tidaklah cukup hanya dengan malihat makna denotatif semata. Sepanjang penggunaan tanda-tanda denotatif, datang pula asosiasi yang disebut konotasi.

Ketika mempertimbangkan sebuah berita atau laporan, akan menjadi jelas bahwa tanda linguistik, visual dan jenis tanda lain mengenai bagaimana berita itu direpresentasikan (seperti tata letak / lay out, rubrikasi, dsb) tidaklah sesederhana mendenotasikan sesuatu hal, tetapi juga menciptakan tingkat konotasi yang dilampirkan pada tanda. Barthes menyebut fenomena ini – membawa tanda dan konotasinya untuk membagi pesan tertentu– sebagai penciptaan mitos.[5] Pengertian mitos di sini tidaklah menunjuk pada mitologi dalam pengertian sehari-hari –seperti halnya cerita-cerita tradisional– melainkan sebuah cara pemaknaan; dalam bahasa Barthes: tipe wicara.[6] Pada dasarnya semua hal dapat menjadi mitos; satu mitos timbul untuk sementara waktu dan tenggelam untuk waktu yang lain karena digantikan oleh pelbagai mitos lain. Mitos menjadi pegangan atas tanda-tanda yang hadir dan menciptakan fungsinya sebagai penanda pada tingkatan yang lain. Dalam kasus Marsinah, kata ‘skenario’ misalnya menjadi penanda yang dicetuskan pada petanda “mekanisme peradilan sesat” atau “konspirasi kekuasaan”.

Mitos oleh karenanya bukanlah tanda yang tak berdosa, netral; melainkan menjadi penanda untuk memainkan pesan-pesan tertentu yang boleh jadi berbeda sama sekali dengan makna asalnya. Kendati demikian, kandungan makna mitologis tidaklah dinilai sebagai sesuatu yang salah (‘mitos’ diperlawankan dengan ‘kebenaran’), cukuplah dikatakan bahwa praktik penandaan seringkali memproduksi mitos. Produksi mitos dalam teks membantu pembaca untuk menggambarkan situasi sosial budaya, mungkin juga politik yang ada disekelilingnya. Bagaimanapun mitos juga mempunyai dimensi tambahan yang disebut naturalisasi. Melaluinya sistem makna menjadi masuk akal dan diterima apa adanya pada suatu masa, dan mungkin tidak untuk masa yang lain.[7]

D. Metodologi

Sebagaimana tersinggung pada awal tulisan, maksud utama penelitian ini adalah pencarian makna serta mitos dalam berita kasus Marsinah di majalah TEMPO. Oleh karena itu metode yang akan digunakan adalah semiotika, dengan mengambil pijakan utama pada model Roland Barthes.[8] Selebihnya, sekadar untuk memperkaya tulisan dalam paparan lanjut akan diambil beberapa konsep lain yang relevan, tentu tanpa mengurangi maksud untuk berbelok sama sekali dari metode Barthesian.

Teknik analisis terbagi dalam dua tahap, yakni analisis sintagmatik dan analisis paradigmatik. Secara sintagmatik, berita-berita kasus Marsinah akan dibedah secara historis, dimulai semenjak edisi pertama kasus tersebut diberitakan (16 Oktober 1993) hingga berita terakhir sebelum TEMPO dibredel (18 Juni 1994). Untuk kemudahan analisis, delapan bulan pemberitaan dipilah ke dalam tiga sekuen, yakni masa penyidikan, masa persidangan 1993, dan masa persidangan 1994. Sementara pada aras paradigmatik baru akan dianalisis bagaimana mitos-mitos ditampilkan dan bagaimana pula posisi ideologis TEMPO dalam pemberitaan Marsinah.

E. Kasus Marsinah Dalam Representasi Tempo: Analisis Sintagmatik

Campur aduknya pelbagai tema berita seputar kasus Marsinah menghasilkan telaah panjang tentang satuan-satuan struktural yang dapat digali. Dari sudut pandang semiotik, menafsirkan berita atau bagian berita menjadi semacam karya terjemahan: pembaca menciptaan teks di samping teks. Pertama kali analisis dimulai dengan mempertimbangkan faktor mikrostrural dan berlanjut pada ‘penerjemahan’ makrostruktural. Setiap berita, terhadap makna akhir ini merupakan satu argumen. Penelusuran kemungkinan argumen ini pun (yang hampir selalu lebih dari satu) mengarah pada tujuan akhir: menguraikan gagasan dominan dari pelaku representasi atau ‘sang pengarang’ (media/reporter). Persoalannya adalah bagaimana menelusuri argumen final yang ‘merelungi’ alias bagaimana pembaca dapat mengetahui ‘apa yang pada dasarnya dibahas dalam sebuah berita?’

Menjawab pertanyaan tersebut tidak selamanya mudah, bagaimanapun tanda-tanda yang bermain dalam teks tidak sealu bergerak linear. Seringkali terdapat tanda-tanda penting yang bergerak acak, menyelinap di antara ragkaian kalimat, paragraf, bahkan gambar sekalipun. Kecenderungan ini membawa pembacaan teks pada problem baru, yakni bagaimana menelususri kontinyuitas gagasan dalam diskontinyuitas tanda. Pada tingkat makrostruktural demikian terasa rumit. Teks yang terangkai dalam kurun waktu yang relatif panjang menyediakan multiargumen. Sejumlah tanda dengan cepat membentuk koherensi yang dapat dianggap sebagai argumen.[9] Kemudian sejumlah argumen bersama-sama membentuk argumen baru; inipun pertautan antara argumen yang ‘lebih kecil’, ‘lebih dangkal’ menjadi argumen baru yang lebih besar dan mendalam sama sekali tidak berbaris rapi dalam satu satu garis gagasan lurus.

Sebuah sintagma ibarat suatu rantai, maka analisis sintagmatik melihat keberadaan teks dalam kedudukannya pada dimensi waktu. Dalam bahasa Berger analisis sintagmatik berupaya melihat teks sebagai ragkaian peristiwa yang membentuk sejumlah cerita.[10] Teknik struktural pertama dalam kajian ini diambil dari konsep anchorage (penambat) dari Barthes. Anchorage barangkali menjadi bentuk struktur yang paling sederhana, yakni penggunaan tanda verbal pada posisi ‘berkuasa’ dibandingkan tanda-tanda lain sejauh penggunaannya memberikan ‘kata terakhir’. Sehingga di dalam satu rangkaian teks terdapat semacam hirarki tanda: beberapa tanda lebih berarti dibandingkan yang lain. Dalam satu narasi berita misalnya, pemberian judul membuat maknanya bersifat otoritatif, sementara yang lain sekadar memberi penekanan atau denomination. membantu pembaca untuk memberinya makna dengan akurat.[11] Untuk memberi kemudahan dalam analisis struktur sintagma berita, beberapa konsep lain diadopsi dan dioperasionalisasikan. Misalnya, mengambil dari Andrew Tolson tentang argument, montage, dan narrative.

Tidak mudah menyederhanakan beragam makna yang ditemukan dari ‘rimba tanda’ kasus Marsinah ini. Menyajikan ulasan interpretatif yang bersifat makro atas puluhan berita selama delapan bulan pemberitaan pun terlihat menjadi persoalan yang pelik. Padahal kebutuhan utama analisis adalah mempersembahkan kesimpulan global yang representatif untuk keseluruhan berita, atau katakanlah ‘supra argumen’ alias argumen utama dari keseluruhan argumen yang tercerai-berai dalam keseluruhan berita. Supra argumen inilah yang akan diikhtisarkan sebagai gagasan dominan. Untuk membuatnya tampak sederhana, keseluruhan berita dipilah dalam sejumlah sekuen yang kemungkinan koherensinya dapat diuraikan. Sementara, interpretasi tentang supra argumen diketengahkan pada bagian akhir sekuen. Penyederhanaan ini bermanfaat mengingat reportase kasus Marsinah sendiri terjalin selama berbulan-bulan seperti layaknya cerita bersambung. Tentu tidak berarti bahwa argumen-argumen yang menandai gagasan itu terhenti begitu saja di tiap sekuen. Fragmentasi sekuensial dimaksudkan sebagai semacam pembabakan atas keseluruhan berita.

Secara garis besar pemberitaan kasus Marsinah meliputi dua bagian utama, yakni sebelum masa persidangan dan pemberitaan selama masa persidangan. Pemberitaan sebelum persidangan dimasukkan ke dalam sekuen pertama. Sementara pemberitaan selama masa persidangan dibagi ke dalam dua sekuen yaitu persidangan selama tahun 1993 dan persidangan tahun 1994. Terdapatnya keretakan frekuensi yang cukup lama selama akhir tahun 1993 dan awal 1994 menyebabkan dipisahnya analisis berita-berita selama masa persidangan. Dalam catatan penulis, tidak ada berita kasus Marsinah pada minggu terakhir Desember 1993 dan empat edisi Januari 1994 (satu setengah bulan).

1. Sekuen Pertama: Pemberitaan Pra Persidangan Tahun 1993

Secara umum, sumbangan penting yang TEMPO berikan adalah ajakan pada pembaca untuk memikirkan kembali apa yang sebenarnya berlangsung di balik kasus Marsinah. Tendensi untuk menggagas reproduksi gagasan moral –tentang apa yang dianggap baik atau buruk, benar atau salah– menjadi energi pendorong yang demikian kuat; kendati tidak pernah sekalipun dinyatakan secara tegas. Menyimak satu per satu berita, akan dijumpai simpul-simpul gagasan yang menonjol, dan dari sinilah gagasan-gagasan moral mendapat pijakan. Beberapa di antaranya adalah bagaimana keterlibatan militer dalam mekanisme penyelesaian sengketa perburuhan, (termasuk keterlibatan mereka dalam pembunuhan Marsinah), kontroversialnya mekanisme peradilan kasus tersebut hingga penggambaran Marsinah itu sendiri. Simpul-simpul gagasan seperti ini menandai ajakan TEMPO untuk mencermati kembali sejumlah persoalan serius dalam dinamika hubungan buruh, pengusaha dan negara (termasuk militer dan pengadilan). Tentu saja dalam hal ini hanya sepanjang konteks situasional berlangsungnya kasus tersebut.

Mengemukanya kasus Marsinah menjadi isu nasional tampaknya dapat dipahami paling tidak dari dua alasan. Pertama, berangkat dari jalinan kontekstual sosiohistoris: berlangsungnya marginalisasi buruh selama puluhan tahun terutama di masa Orde baru. Pembunuhan Marsinah menjadi momen fenomenal yang mampu menyentakkan kesadaran publik dalam skala luas; bahwa persoalan buruh toh tidak terlepas begitu saja dari ketidakberesan struktural saat itu. Kedua, isu Marsinah merebak ketika penanganan hukumnya berjalan lambat. Sampai lebih dari empat bulan semenjak gadis asal Nglundo itu ditemukan tak bernyawa (awal Mei 1993), pengusutan kasusnya tidak menunjukkan kemajuan berarti. Sepanjang bulan-bulan tersebut muncul berbagai reaksi pembelaan yang berpretensi menggugat gejala tidak seriusnya aparat dalam menangani misteri kematiannya. Mungkin itu pula yang mengusik aparat secepatnya memulai kembali penyidikan. Dimulai tanggal 1 Oktober 1993, sejumlah petugas berpakaian preman (dan menyembunyikan identitasnya) menangkap dan menahan sembilan staf PT CPS, sebuah pabrik arloji di Sidoarjo tempat kerja almarhumah. Ganjilnya modus penangkapan ini justru melahirkan reaksi baru dari publik sekaligus menjadi bahan berita sensasional. Pada momen inilah Tempo menurunkan berita pertamanya yang dimuat pada edisi 16 Oktober 1993. Dengan judul “Buntut Kematian Marsinah di Sidoarjo”, TEMPO memperkenalkan kembali kasus ini semenjak Goenawan Mohamad melansirnya dalam Catatan Pinggir edisi 12 Agustus sebelumnya.

Keseriusan TEMPO terlihat dua minggu kemudian. Majalah ini tampaknya menerjunkan sejumlah reporter –setidaknya tercatat ada enam reporter yang tersebar dalam sejumlah berita– untuk mengangkat kasus ini ke dalam rubrik Laporan Utama edisi 30 November 1993. Di dalamya terdapat lima judul berita beserta dua artikel terkait dari kalangan legal community. Kelima judul berita dalam edisi tersebut adalah: “Pengorbanan Gadis dari Nglundo”, “Penculikan Setelah Tewasnya Marsinah”, Ketika Tersangka Dijemput Begitu Saja”, “Sembilan Tersangka untuk Satu Yang Mati” dan Tak Mundur Digertak”.

Secara umum, berita-berita pada laporan utama edisi 30 Oktober 1993 ini merekomendasikan makna-makna tentang sisi gelap kematian Marsinah. Modus penangkapan tersangka yang sering disimbolisasikan sebagai ‘gerakan’, ‘pencidukan’, ‘penculikan’, ‘menangguk’ dari pada kata-kata ‘penangkapan’ atau ‘menangkap’. Pada bagian lain, gambara sisi gelap penanganan hukum terhadap para tersangka disimbolisasikan dengan kata ‘disimpan’ daripada sekadar kata ‘ditahan’. Dalam pengamatan penulis, setidaknya berita-berita pada Laporan Utama edisi ini memperlihatkan tiga proposisi utama, yakni: pertama, TEMPO ingin menyampaikan pada pembaca bahwa sampai dengan 1 Oktober 1993 pengungkapan kasus Marsinah tidak menunjukkan kejelasan. Kedua, penyidikan tersangka tidak melalui prosedur yang dibenarkan secara hukum dan ketiga, penanganan terhadap tersangka akan menimbulkan kontroversi baru. Bukti-bukti ketiga argumen ini diperkuat dengan pemuatan narasumber yang menolak pola penanganan aparat terhadap tersangka dari kalangan legal community semacam Abdul Hakim Garuda Nusantara, Prof. Dr. J.E. Sahetapy dan pengacara Amir Syamsudin.

Pada bagian lain, TEMPO menampilkan feature pendek tentang Marsinah (Tak Mundur Digertak”) yang menggiring pembaca pada personalisasi Marsinah. Ia diceritakan sebagai seorang yang jujur, ulet, berani dan sebagainya. Bagian inilah yang barngkali paling menarik karena di dalamnya terdapat gelagat untuk secara samar mulai memitoskan Marsinah. Akhirnya Laporan Utama ditutup dengan dua kolom terpisah dari Todung Mulya Lubis (“Marsinah”) dan Mulyana W. Kusumah (Nasib Buruh dan “Politik Kekerasan). Melalui pemuatan tulisan kedua tokoh ini, TEMPO memperkuat gagasannya bahwa kasus Marsinah mengandung sisi gelap tersendiri baik dari sisi hukum maupun dari sudut pandang yang lebih politis yakni tentang pelembagaan mekanisme penyelesaian sengketa perburuhan.

Pada tataran konseptual, bagaimana menengarai gagasan-gagasan TEMPO dalam keseluruhan pemberitaan pra persidangan kasus Marsinah ini? Sembilan judul berita pada sekuen pertama memberikan supra argumen: ironi hukum persiapan persidangan kasus Marsinah. Ini berarti bahwa proses hukum awal awal (pra persidangan) kasus Marsinah telah melanggar hukum. Menilik jalinan proposisinya, ironi hukum ini diketengahkan melalui penyajian sejumlah sinyalemen ‘ketidakwajaran’ sejak dilakukannya penangkapan, penahanan dan pemeriksaan tersangka. Termasuk di dalamnya adalah peristiwa otopsi dan rekonstruksi pembunuhan Marsinah. Untuk kepentingan justifikatif, sinyalemen ketidakwajaran lantas disandarkan pada pada pemuatan kutipan dari kalangan legal community, baik yang terlibat langsung dengan kasus tersebut atau tidak.

2. Sekuen Kedua: Masa Persidangan 1993

Terserak dalam tujuh berita plus satu kolom (tidak termasuk Catatan Pinggir edisi 18 Desember 1993), sekuen ini terdiri atas lima edisi pemberitaan yakni: 13 November 1993 (Mutiari Pertama Melewati Massadan Tiga Menit Gugur”), 20 November 1993 (Kemenangan di Atas Kertas”), 4 Desember 1993 (“Janji Pembunuh Berdarah Dingin” dan “Kusaeri dan Boneka Porong”), edisi 11 Desember 1993 (“Ini Tahun Marsinah”) dan terakhir edisi 18 Desember 1993 (“Marsinah Award Dari Buruh”). Secara umum topikalisasi sekuen kedua merangkum tiga peristiwa utama yaitu persidangan sebagian terdakwa pembunuh Marsinah, persidangan gugatan praperadilan Mutiari (karyawan PT CPS) dan Yudi Susanto (Direktur PT CPS), serta pemberian Yap Thiam Hien Award pada almarhumah Marsinah.

Menelusuri rimba tanda seluas tujuh judul dalam sekuen ini berujung pada dua simpul gagasan. Simpul pertama mempertalikan empat pemberitaan yang berkutat di seputar persidangan gugatan praperadilan dan persidangan awal pokok perkara (terangkum dalam tiga edisi awal). Sementara simpul kedua berhubungan dengan momen peringatan Hari Hak Asasi Manusia yang ditandai penghargaan Yap Thiam Hien Award kepada almarhumah Marsinah (edisi 11 Desember 1993 dan 18 Desember 1993). Pada tataran konseptual, dari ketujuh berita yang ada di sekuen ini dapat ditarik supra argumen: “tidakwajarnya persidangan (awal) kasus Marsinah’, atau tegasnya adalah bahwa peradilan kasus Marsinah telah diintervensi oleh penguasa. Kesimpulan semacam ini muncul dari berbagai proposisi faktual yang dijalin dalam narasi-narasi berita, misalnya tentang kejanggalan-kejanggalan dalam mekanisme peradilan maupun menguatnya dugaan adanya skenario peradilan.

Bagian paling menarik dalam sekuen kedua justru terlihat dari meningkatnya popularitas Marsinah. Seiring berlangsungnya persidangan sejumlah terdakwa, pada awal Desember 1993 berlangsung peringatan Hari Hak Asasi Manusia yang berpusat di Jakarta. Pada peringatan ini nama Marsinah menjadi monumental, karena ia ditetapkan sebagai penerima Yap Thiam Hien Award. Pada edisi 11 Desember 1993 Tempo melansir rencana pemberian penghargaan tersebut dalam berita pendek berjudul “Ini Tahun Marsinah”. Topikalisasi ‘tahun Marsinah’ menandai argumen berita, yakni ditetapkannya Marsinah sebagai penerima Yap Thiam Hien Award. Penulisan judul tersebut menyajikan makna akhir konstruksi positif ditetapkannya almarhumah sebagai penerima penghargaan perjuangan hak asasi manusia. Bahasa empatik sangat kentara dalam keseluruhan narasi, dan paling menonjol adalah deskripsi Marsinah sebagai ‘pejuang hak asasi manusia’ pada paragraf pertama berita.

Peristiwa pemberian penghargaan itu sendiri akhirnya dimuat pada edisi berikutnya, 18 Desember 1993. Dimasukkan dalam rubrik Nasional, berita berjudul “Marsinah Award Dari Buruh”, menyajikan argumen utama berita: “Marsinah adalah pejuang hak asasi manusia”. Berita ini tak urung menyajikan gelagat pemitosan atas Marsinah. Paling tidak dapat diketemukan dua proposisi faktual (peristiwa) yakni: pemberian Yap Thiam Hien Award dan (rencana) pemberian Marsinah Award kepada tokoh yang memperjuangkan hak-hak kaum buruh. Dalam konteks ini Marsinah dinilai sebagai orang yang konsisten memperjuangkan hak-hak buruh, dan untuk itu layak ditempatkan pada posisi yang tinggi. Pada berita ini istilah ‘pejuang hak asasi manusia’ seringkali dijajarkan dengan bintang, pahlawan, atau melawan kesewenang-wenangan. Secara sintagmatik, pola penjajaran (juxtaposition) seperti ini memberi nuansa campur aduk, kendati kesimpulan akhirnya mudah ditengarai: narasi linear pemitosan Marsinah.

Bagian akhir dari sekuen kedua ini ditutup dengan sebuah kolom dari Adnan Buyung Nasution berjudul “Marsinah dan Politik Perburuhan”, pada edisi 18 Desember 1993. Dengan mengambil versi awal persidangan sebagai titik tolak gagasan, tulisan tersebut dibawa ke arah argumentasi politis: “keterlibatan aparat keamanan (militer) dalam politik perburuhan merupakan pola yang terlembaga, dan bukan sekadar perilaku oknum.”

3. Sekuen Ketiga: Masa Persidangan 1994

Sekuen ini terentang selama lebih dari tiga bulan pemberitaan, terangkai dalam belasan judul yang berkisar di seputar persidangan para terdakwa kasus Marsinah sejak pertengahan Februari hingga pertengahan Juni 1994. Berita-berita sekuen ini antara lain, edisi 19 Februari 1994 (“Saksi Membelot Pembela Keluar Sidang”), 26 Februari 1994 (“Ada Rekayasa di Balik Kematian Marsinah?”), 5 Maret 1994 (“Marsinah Telanjur Tewas” dan Menunggu Kunci Bicara”.), Laporan Utama 19 Maret 1994 (terdiri atas Mengadili Peradilan”, “Remang-Remang Kasus Marsinah di Pengadilan”, “Banyak Versi Menyambut Vonis”,Teror Dan Ancaman Untuk Siapa Saja”, boks “Memingit Truf” & Menunggu Kunci Bicara serta sebuah kolom oleh Arief Budiman berjudul Marsinah: Siapa Bodoh?”), 26 Maret 1994 Mahkamah Agung dan Kasus Marsinah(kolom:Muladi), 2 April 1994 (“Mutiari Bicara: “Saya Ini kan Tumbal” dan “Kesaksian Dari Kamar Pembantu”), 16 April 1994 (“Ada Tersangka Lain, Siapa Dong?”), 30 April 1994 (Bersabar Dulu, Mutiari), 7 Mei 1994 (“Mutiari Pun Menulis Buku”), 21 Mei 1994 (Mengapa Tulang Pinggul Hancur”) dan terakhir edisi 18 Juni 1994 (“Babak Terakhir Kasus Marsinah”).

Pada bulan Januari 1994 sama sekali tidak ada berita Marsinah, sehingga sekuen ini dimulai dari Februari. Secara umum, berita-berita pada sekuen ini menyoroti beragam aspek ketidakwajaran persidangan Marsinah. Pada banyak berita, kembali-kata seperti ‘skenario’ menjadi tanda yang demikian penting untuk mengukuhkan anggapan tentang buruknya mekanisme peradilan Marsinah. Peran tanda lingusistik utama (anchorage) semacam judul memperlihatkan bagaimana TEMPO menggiring minat pembaca pada argumen utama: rekayasa peradilan. Tendensi ini menguat melalui penceritaan (monolog interior) dalam beberapa berita tentang sejumlah tersangka hingga penyidikannya yang disertai dengan kekerasan. Di sisi lain sejumlah tersangka yang telah diadili justru oleh TEMPO disebut sebagai ‘korban’. Makna yang dapat ditangkap dari representasi seperti ini adalah adanya keyakinan tentang kemungkinan tidak bersalahnya sejumlah tersangka, dan demikian mengukuhkan anggapan adanya skenario peradilan dalam kasus Marsinah. Maka bukan tidak aneh jika dalam berita-berita sekuen ini terdapat cukup banyak kata ‘rekayasa’ maupun ‘skenario’

Pada aras pertama (realitas lapangan), sampai dengan Maret 1994 persidangan terus berlangsung. Dalam bulan-bulan tersebut bahkan sejumlah lembaga melakukan penyelidikan sendiri-sendiri yang menimbulkan beragam versi tentang kematian Marsinah. Atas ikhwal ini, pada edisi 19 Maret 1994 kembali TEMPO menurunkan Laporan Utama. Bagian ini menjadi sangat menarik dari rangkaian berita pada sekuen ketiga karena gencarnya berita-beritanya yang menyoroti perihal tidak beresnya kematian Marsinah. Selain liputan persidangan, beberapa bagian berita juga memperlihatkan sisi lain di luar persidangan semacam adanya ancaman telepon gelap maupun surat kaleng kepada pembela para terdakwa. Tak urung, pemberitaan semacam ini sekadar mengukuhkan anggapan tentang proses peradilan yang buruk.

Mencermati sekuen yang terjalin selama enam bulan pemberitaan ini, dapat disimpulkan supra-argumen: “ironi hukum kasus Marsinah”. Dapat pula dikatakan bahwa argumen ini merupakan argumen final atas keseluruhan pemberitaan TEMPO dalam mengangkat kasus Marsinah (tentu saja kali ini hanya sepanjang masa eksisnya sebelum dibredel). Jika pada sekuen sebelumnya kesimpulannya sekadar mengarah pada kejanggalan proses hukum awal, maka sekuen ini lebih jauh menandai penegasan gagasan TEMPO: telah berlangsung rekayasa peradilan dalam kasus Marsinah. Dengan demikian terdapat gradasi meningkat atas makna-makna berita TEMPO. Kejanggalan-kejanggalan yang muncul sepanjang persidangan para terdakwa pembunuh Marsinah diperlihatkan secara relatif jelas, sehingga pembaca yang mengikuti berita Marsinah akan dengan mudah memahami bagaimana media ini menyajikan sebuah potret buram kasus tersebut dari sisi hukum.

F. Dari Konotasi ke Mitos: Analisis Paradigmatik

Dengan sedikit penyederhanaan, dapat dikatakan bahwa perbedaan mendasar antara analisis sintagmatik dan paradigmatik terletak pada jangkauan makna yang dapat dicapai dalam melihat teks. Dalam konteks penelitian ini, analisis sintagmatik cenderung menjangkau makna atau gagasan manifes (makna ‘luar’) baik yang bersifat dominan maupun subordinat. Sedangkan analisis paradigmatik berusaha menjangkau makna yang lebih mendalam (makna laten) dari teks. Dalam analisis kali ini, apa yang akan digali sebagai makna laten adalah hadirnya mitos ataupun pemitosan yang mungkin dilakukan TEMPO terhadap sejumlah tokoh maupun pereistiwa yang diberitakan. Perihal produksi mitos ini pun harus dipahami bahwa kehadirannya –seperti halnya makna– tidaklah selalu bersifat tunggal. Selalu terdapat kemungkinan kemajemukan mitos sebagaimana pernah diisyaratkan Barthes ketika ia menyatakan bahwa teks ibarat ‘ruang multidimensional’ tempat bercampuraduknya berbagai kontradiksi dan pertentangan.[12] “Pengarang sudah mati”, demikian sebuah ungkapan dari Barthes. Ungkapan ini tentu metafora belaka, sekadar untuk menyatakan bahwa semangat pelaku representasi sudah memudar dan digantikan oleh bahasa.

Mengawali perjalanan analisis paradigmatik, terdapat sejumlah prinsip pokok yang tidak dapat ditinggalkan, yakni bahwa isi media adalah hasil konstruksi (pikiran) manusia. Media mengkonstruksi realitas dengan menggunakan bahasa sebagai perangkat dasar, sehingga setiap upaya ‘menceritakan’ peristiwa, keadaan, benda, atau manusia sekalipun adalah usaha mengkonstruksi realitas. Dalam hal ini bahasa bukan saja menjadi instrumen representasi, bahkan bahasa mampu menentukan relief seperti apa yang akan diciptakan tentang realitas. Maka media memiliki peluang untuk mempengaruhi makna dan gambaran realitas yang akan dikonstruksikannya. Dalam bahasa yang lebih akrab, hal ini disebut sebagai citra. Seperti diketengahkan Alex Sobur, bagi media bahasa bukanlah sekadar alat komunikasi untuk menggambarkan realitas. Bahasa pada akhirnya menentukan citra tertentu yang hendak ditanamkan kepada publik.[13]

Perihal produksi citra inilah yang terlihat sangat menarik. Bagaimanapun awak media adalah sekelompok komunitas dengan landasan normatifnya sendiri. Suatu pencitraan takkan beranjak jauh dari predisposisi nilai yang mereka anut. Berbagai cara dilakukan untuk menentukan citra, mulai dari pilihan kata atau frase beserta asosiasi-asosiasi yang dilekatkan hingga ke soal siapa sumber-sumber beritanya. Masing-masing memberi kontribusi sehingga suatu teks memiliki, katakanlah, pengembangan definisi tertentu tentang realitas yang ditunjuk. Kendati tak dapat dilukiskan secara matematis, faktor-faktor tersebut seringkali bekerja secara sinergis dalam merekomendasikan citra tertentu atas subyek atau obyek yang direpresentasikan. Dalam kasus penelitian ini, penulis mencoba melongok sejenak bagaimana TEMPO memproduksi citraan-citraan tertentu dalam representasi kasus Marsinah.

Memahami berita-berita TEMPO sebagai proses konstruksi, maka pencitraan pihak-pihak yang diberitakan dalam kasus Marsinah dapat ditarik dalam dua bagian utama yakni pencitraan terhadap Marsinah dan pencitraan terhadap aparat (states apparatus). Terhadap pencitraan atas Marsinah, dapat disinyalir dari beragamnya ungkapan atau kalimat empatik yang ditujukan pada almarhumah yang saat itu popularitasnya memang tengah melambung. Bagaimana ia diceritakan dengan melekatkan karakter pahlawan padanya, atau melalui contoh-contoh kontekstual mengenai keterlibatannya dalam aksi buruh di PT CPS memberi petunjuk awal bahwa TEMPO tengah mempahlawankannya. Lebih-lebih ketika tokoh ini mendapatkan Yap Thiam Hien Award, realitas ini mengukuhkannya sebagai sosok pahlawan.

Beberapa bagian pemberitaan memperlihatkan bagaimana narator berita merepresentasikan bagaimana Marsinah yang ditokohkan sebagai pahlawan. Misalnya pada edisi 28 Mei 1994 TEMPO memberitakan kematian seorang buruh tekstil di Jawa Barat bernama Titi Sugiarti dalam judul “Marsinah dari Pabrik Kahateks?”. Peristiwa tersebut sebenarnya tak ada hubungannya sama sekali dengan kasus Marsinah, tetapi penulis berita lantas menyatakannya sebagai ‘Marsinah’. Hal ini bermakna bahwa nama Marsinah telah begitu melekat di benak narator, sehingga untuk kasus lain yang tak ada hanya hubungannya sekalipun lantas ditengarai sebagai Marsinah. Padahal belum tentu ada kesamaan antara apa yang menimpa Marsinah dengan Titi Sugiarti, keduanya adalah entitas yang sama sekali berbeda dengan kasus yang berbeda pula. Ketika rangkaian representasi ditarik ke dalam telaah konstruksi mitos, terdapat satu hal menarik dalam proses pemberitaan yaitu seringnya penggunaan bahasa konotatif, baik melalui ungkapan retorik maupun majas. Hasil analisis paradigmatik memperlihatkan kesimpulan bahwa pada tingkat ini, pemberitaan kasus Marsinah samar-samar memperlihatkan daya pikat mitologis. Kesimpulan ini untuk menunjuk adanya realitas lain (dan mungkin bersifat abstrak) di balik gagasan-gagasan yang teridentifikasi dalam analisis sintagmatik. Dari seluruh berita TEMPO atas kasus Marsinah, paling tidak penulis menemukan adanya dua mitos yang dibangun. Pertama adalah mitos ‘peradilan sesat’ dan ‘Marsinah sebagai pahlawan’.

Pada awal-awal berita, penangkapan dan penahanan para tersangka (karena melanggar prosedur hukum) sering disimbolisasikan dengan dengan kata dasar ambil, ciduk, maupun simpan. Selanjutnya, dalam berita-berita terpisah terlihat adanya penajaman makna, seperti dalam Laporan Utama (30 Oktober 1993), penangkapan disimbolisasikan dengan kata dasar tangguk atau culik. Kata terakhir bahkan dijadikan anchorage (“Penculikan Setelah Tewasnya Marsinah”). Kata-kata hiperbolik demikian sering diulang dalam berita-berita berikutnya. Penggunaan bahasa seperti itu menjadi konstruksi negatif, nada melebih-lebihkan meniadakan denotasi yang secara harfiah ditekstualisasikan dan interpretasinya menjadi berbeda. Makna yang muncul justru menegaskan terjadinya ‘pelanggaran hukum oleh aparat’. Bisa dibayangkan seandainya penangkapan dan penahanan tersangka direpresentasikan dalam bahasa yang relatif datar, ‘netral’, asosiasi yang muncul sama sekali akan berbeda. Misalnya cukup ditulis dengan kata dasar tangkap atau tahan. Tanda-tanda lain yang dapat dimaknai memperkuat konstruksi negatif dapat juga ditilik dari aspek depiction, dimana penceritaan peristiwa penangkapan dilukiskan secara dramatis. Dalam kaitan itu maka digunakannya bahasa hiperbolik mendapatkan fungsi semiotisnya secara spesifik: penonjolan asosiasi pelanggaran hukum oleh aparat.

Bagian lain yang tak kalah menarik dalam representasi lembaga peradilan terlihat ketika TEMPO menyajikan ungkapan “mengadili peradilan”. Ditambatkan sebagai judul prolog Laporan Utama 19 Maret 1994 (“Mengadili Peradilan”), penyajian ungkapan tersebut mempertegas anggapan sesatnya peradilan kasus Marsinah. Secara paradigmatik ungkapan ini dapat dimaknai sebagai gambaran ironik: ketika lembaga peradilan yang seharusnya menjadi penjamin rasa adil justru melanggar hukum, maka semestinyalah pengadilan itu yang harus diadili.

Dari sudut pandang semiotika, produksi citraan yang dialamatkan pada lembaga peradilan (kepolisian, kejaksaan dan pengadilan) menghadapkan diskusi paradigmatik penelitian ini pada gambaran mitos peradilan sebagai lembaga yang sesat. Jika salah satu batas formal mitos berkenaan dengan ‘tipe wicara’, maka perulang-ulangan metafora dan hiperbola layak dipertimbangkan sebagai salah satu petunjuk untuk menengarai gejala pemitosan bagaimana ‘sesatnya lembaga peradilan’ saat itu. Wicara mitologis dikonstruksi berdasarkan aspek material (bahasa dan peristiwa) yang awalnya dianggap masuk akal untuk dikomunikasikan. Dalam kasus berita-berita TEMPO, perulangan metafora hiperbolik seperti ciduk, tangguk, dan diklimakskan dengan culik menunjuk pada peristiwa (aspek material) penangkapan para tersangka yang memang sonder surat penangkapan. Penggunaan kata-kata tersebut memproduksi serangkaian asosisasi: bahwa dalam penangkapan tersangka aparat telah mengancam, menggunakan kekerasan, dan pada titik tertentu telah melanggar hukum. Dapat diamati bahwa pada beberapa beritanya, TEMPO menggunakan kata-kata bernuansa ‘keras’ dalam menggambarkan aksi aparat terhadap buruh atau para tersangka pembunuh Marsinah.

Keberadaan tanda-tanda lain tentu tidak dapat diabaikan dalam produksi asosiasi ini, karena bagaimanapun setiap tanda memberi sumbangan penting untuk memperluas kompleksitas interpretasi pembaca. Misalnya adalah soal dramatisasi atau monologue interior. Laporan gaya feature membangun suatu gambaran dramatis bagaimana peristiwa-peristiwa disajikan kepada pembaca, sehingga pembaca seolah melihat langsung. Teknik penceritaan gaya ini banyak sekali bertebaran dalam teks-teks berita TEMPO. Beberapa bagian lain berita malah menghubungkan preseden alias aspek historis dari model penanganan tersangka maupun saksi. Misalnya dalam salah satu edisinya dicontohkan bagaimana A.M Fatwa dahulu pernah ditangkap tanpa kebenaran prosedur hukum, atau bagaimana artis Ria Irawan pernah dijadikan tersangka karena pernah membuang barang bukti dalam satu kasus pembunuhan. Kenapa dua orang pembantu Yudi tidak dijadikan tersangka? Padahal mereka konon turut membuang barang bukti. Dengan mengetengahkan ‘contoh sejarah’ itu maka mitos ‘peradilan sesat’ mendapat pembenarannya, bahwa hal demikian sebenarnya telah berlangsung dalam kurun waktu yang lama.

Beranjak pada pemitosan Marsinah sendiri, gejala pemitosan Marsinah samar-samar mulai terlihat semenjak Laporan Utama edisi 30 Oktober 1993. Aktivitas Marsinah dalam menuntut perbaikan upah di PT CPS dinyatakan TEMPO sebagai ‘perjuangan’. Pada bagian lain kematinnya disimbolkan dengan kata ‘pengorbanan’. Tanpa ditutup-tutupi, TEMPO merepresentasikan Marsinah dalam bahasa yang penuh sanjungan, mulia, tanpa cacat. ‘Perjuangan’ dan ‘pengorbanan’ agaknya hanya sebagian dari bahasa pemitosan Marsinah ini (agaknya lebih tepat: “ciri-ciri pahlawan mitos”). Pada judul lain edisi 30 Oktober (“Tak Mundur Digertak”) diuraikan bagaimana sifat Marsinah, dan kenyataannya tak ada satupun bagian narasi berita tersebut yang menyebut Marsinah dalam konotasi buruk. Secara paradigmatik, pilihan itu tak ubahnya sebagai labelisasi, memperlihatkan satu leading principle: nilai moral seorang pahlawan mitis. TEMPO menyatakan orang ini sebagai figur yang pantang menyerah, setia kawan, rajin, gigih, sederhana, berkemauan keras, dan berani.

Pemitosan atas Marsinah sebenarnya sudah mendapatkan kekuatannya tersendiri ketika pada 10 Desember 1993 ia diberi Yap Thiam Hien Award. Dalam beritanya, guna membangun hubungan kontekstual dengan realitas tersebut TEMPO menyatakan perjuangan Marsinah sebagai perjuangan hak asasi manusia, dan Marsinah pun lantas disebut sebagai pejuang hak asasi manusia. Seperti dalam beberapa beritanya, TEMPO melabeli Marsinah dengan pahlawan buruh, bintang hak asasi manusia, simbol perjuangan kau buruh, Ini Tahun Marsinah, Marsinah Award dari Buruh. Satu hal menarik ketika TEMPO merepresentasikan ungkapan-ungkapan tersebut adalah terdapatnya semacam antusiasme peninggian posisinya dengan meletakkannya pada derajat yang berbeda dari orang biasa.

Agak menyimpang dari pemitosan via teks-teks tertulis, pada dasarnya upacara pemberian penghargaan Yap Thiam Hien maupun rencana pemberian Marsinah Award pada akhir tahun 1993 sesungguhnya tak luput dari gelagat mitologisasi. Suatu upacara selalu saja mengandung unsur memorial. Apa yang diingat orang ketika Marsinah diberi penghargaan (atau orang lain yang diberi penghargaan atas nama ‘Marsinah’) pada dasarnya adalah Marsinah itu sendiri. Di samping itu, sebuah momen penghargaan selalu dikaitkan dengan –sebutlah– jasa yang ditinggalkan entah bersifat konkret maupun abstrak. Dalam kaitannya dengan bahasa media, pemitosan di ranah pertama (realitas empirik/sosiologis) memperoleh pembenarannya ketika bahasa media turut memberikan pengukuhan simbolik bagi subyek mitos.

Pada taraf yang lebih jauh, di belakang pemitosan Marsinah turut pula isu-isu historis yang tentu saja mempunyai relevansi untuk membangkitnkan mitos Marsinah. Beberapa bagian berita memperlihatkan kecenderungan ini, yakni ketika Marsinah direpresentasikan sebagai figur yang berani dan konsisten memperjuangkan hak-hak buruh dan melawan kesewenang-wenangan (“Marsinah Awars dari Buruh”, TEMPO 18 Desember 1993). Ungkapan seperti ini memberi penonjolan pada sisi kepahlawan Marsinah. Sekaligus dari penggunaan ungkapan tersebut pembaca agaknya diminta untuk menoleh sejenak ke belakang, melihat kembali konteks sejarah hubungan buruh-pengusaha-penguasa semasa hidup sang tokoh pahlawan: Marsinah. Ungkapan-ungkapan tersebut membangkitkan asosiasi historis, bagaimana kulaitas buruh hubungan perburuhan saat itu dikendalikan secara represif dan kadangkala butuh seorang ‘pahlawan’ untuk mendobrak tatanan demikian.

Dalam jalinan oposisi biner, mental model ‘sang pengarang’ alias penulis narasi berita TEMPO dapat digambarkan sebagai berikut:

Skema 1: (Tentang) “Peradilan Sesat” (kasus Marsinah)

 

 

Pemberitaan kasus Marsinah adalah representasi yang lahir dari situasi konfliktual, taruhlah antara buruh, peradilan, pemerintah dan militer. TEMPO sendiri akhirnya cenderung berdiri pada salah satu sisi, yang kali ini mengambil tempat yang berseberangan dengan penguasa. Spirit representasi dari situasi demikian kemudian mempertahankan posisinya dengan bahasa sebagai pertaruhan kreatif. Terutama atas penggunaan bahasa konotatif, asosiasi yang melekat tak urung membuahkan pemitosan ‘peradilan sesat’ maupun Marsinah sebagai ‘pahlawan buruh’ (lihat kata-kata yang dicetak lurus pada model di atas).

G. Marsinah Korban, Marsinah Pahlawan: Purnawacana

Setelah lebih dari satu dasawarsa kasus Marsinah belum juga dapat dianggap rampung, kendati mereka yang didakwa bersekongkol membunuh Marsinah telah diputus bersalah dan dihukum. Beberapa tahun lalu kasus itu pun sempat mengemuka kembali mewarnai media. Dalam catatan Harry Wibowo (KOMPAS, 28 Juni 2000), pada pertengahan tahun 1995 dilakukan penyidikan dan penyelidikan ulang. Kepolisian pusat turun tangan, tim forensik membongkar ulang (untuk ketigakalinya!) makam almarhumah, berbagai komentar dan analisis merebak, Komnas HAM mendukung penyelidikan ulang. Tak kurang, Panglima ABRI memberi instruksi pengusutan, dan Menaker Abdul Latief berjanji mengungkapnya hingga tuntas. Namun tak ada hasil berarti, dengan segera isu-isu lain menenggelamkan tokoh ini.

Seiring bergantinya rezim, baik Habibie maupun Gus Dur pun pernah menunjukkan itikadnya mengungkap kasus lama itu. Pada masa Megawati, harapan akan diungkapnya kasus tersebut lagi muncul kembali ketika Komnas HAM berencana melakukan penyidikan ulang sehubungan dengan ditemukannya bukti-bukti baru di daerah asal Marsinah, Sidoarjo, Jawa Timur. Namun hingga kini tak ada jaminan pasti bahwa kasus tersebut akan terselesaikan secara tuntas. Satu hal pasti, semua itu hanyalah membuat Marsinah makin populer. Ia menjadi sosok mitologis, dan mampu memunculkan beragam inspirasi. Pertengahan tahun 2002 bahkan telah muncul film Marsinah, lagi-lagi membuktikan bagiamana ia telah disulap menjadi sosok mitologis. Padahal dibalik itu, ia hanyalah seorang korban dari mesin kekerasan dan kekuasaan yang bernama Orde Baru. Dan dengan rasa bangga orang menobatkannya sebagai pahlawan, yang sebenarnya adalah mengasingkan dirinya dari kehidupan sehari-hari.

[1] Harry Wibowo: “Marsinah: Korban Orde Baru, Pahlawan Orde Baru”, KOMPAS, edisi khusus ulang tahun, Rabu, 28 Juni 2000.

[2] Stuart Hall (Ed.), Representation: Cultural Representations dan Signifying Practices, Sage Publications, London, 1997, hal.5.

[3] Hall, op. cit., hal. 17.

[4] John Fiske, Introductions to Communication Studies, Routledge, London, 1990, hal 1.

[5] Jonathan Bignell, Media Semiotics: An Introduction, Manchester University Press, Manchester and New York, 1997, hal 16.

[6] Roland Barthes: “Myth Today”, dalam John Storey (Ed.), Cultural Theory and Popular Culture: A Reader, Harvester Wheatsheet, New York, 1994, hal. 107. Dalam edisi bahasa Indonesia lihat juga Roland Barthes, Mitologi, (Terj. Nurhadi & Sihabul Millah), Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2004, hal 152.

[7] Andrew Tolson, Mediations: Text and Discourse ini Media Studies, Arnold, London, 1996, hal. 7.

[8] Barthes, op.cit.

[9] Konsep mengenai koherensi diadopsi dari Teun van Dijk: “Media Contents: The Interdiciplinary Study of News as Discourse”, dalam Klaus Bruhn Jensen dan Nicolas W. Jankowski, A Handbook of Qualitatif Methodologies, 1991.

[10] Berger, Media Analysis Techniques, Sage Publications, Beverly Hills, California, 1982, hal. 24.

[11] Fiske, op.cit., hal 110.

[12] Yasraf Amir Piliang, Sebuah Dunia Yang Dilipat, Mizan, Bandung, 1999, hal. 284-285.

[13] Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotika dan Analisis Framing, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2001, hal. 88.

*************

 

Daftar Pustaka

Barthes, Roland, Mitologi, (Terj. Nurhadi & Sihabul Millah), Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2004.

Berger, Arthur Asa, Media Analysis Techniques, Sage Publications, Beverly Hills, California, 1982.

Bignell, Jonathan, Media Semiotics: An Introduction, Manchester University Press, Manchester and New York, 1997.

Fiske, John, Introductions to Communication Studies, Routledge, London, 1990.

Hall, Stuart (Ed.), Representation: Cultural Representations dan Signifying Practices, Sage Publications, London, 1997.

Piliang, Yasraf Amir, Sebuah Dunia Yang Dilipat, Mizan, Bandung, 1999.

Sobur, Alex, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotika dan Analisis Framing, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2001.

Storey, John (Ed.), Cultural Theory and Popular Culture: A Reader, Harvester Wheatsheet, New York, 1994,

Tolson, Andrew, Mediations: Text and Discourse ini Media Studies, Arnold, London, 1996.

 

One response to “MARSINAH DALAM REPRESENTASI MEDIA: Analisis Semiotika Berita Kasus Marsinah pada Majalah TEMPO 1993-1994

  1. pelanggaran ham terhadap marsinah perlu dibahas secara lebuh tuntas agarv pihak-pihak yang terlibat dapat diadili seadil-adilnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s